HENTIKAN KLAIM KEBENARAN AGAMA

Kontroversi dan polarisasi di sosmed akibat sepak terjang dan ulah beberapa orang yang dipredikasi agamawan dengan ragam sebutannya menyadarkan kita tentang pentingnya memisahkan agama dari negara dalam konteks masyarakat majemuk.

Sama-sama gagalnya membentuk masyarakat utuh dan terpimpin bagi setiap penganutnya dengan segala kesemrawutan dan konflik internalnya sejak kelahirannya, sebaiknya lomba klaim agama paling benar dan bebas distorsi dihentikan. Toh, semua ajarannya tak berbeda kecuali dalam persoalan ritual, yang pada faktanya setiap penganut tak selalu seragam. Ada banyak aliran dan produk konklusi dari kitab suci dalam setiap masyarakat penganutnya Dalam faktanya, belum pernah ada satu entitas umat yang solid, utuh dan terpimpin berasaskan sebuah pemahaman keagamaan tunggal atau yang disepakati selain prinsip teologinya.

Yang mungkin bisa diperdebatkan bukan ajarannya tapi dasar-dasar yang menjadi alasan beragama dan menganut sebuah agama. Tapi yang lebih penting dari itu adalah memperjelas konsepsi agama; apa definisinya? Realkah? Apa realitasnya?

Kata “agama” adalah buah makna agama. Sesuatu disebut sebagai sesuatu berupa kata khas seperti kursi karena ada realitas khas personal yang berfungsi sebagai alat duduk. “Alat duduk” adalah makna universal yang membentuk konsep keapaan kursi dalam benak. Ringkasnya, karena ada fakta personal sebuah benda yang digunakan sebagai sarana duduk, maka tebentuklah konsep universal “sarana duduk” dan konsep universal “kursi” yang kemudian diungkap secara simbolik dengan kata terucap atau tertulis. Karena itu, kursi dapat didefinisikan. Lalu Apa konsepsi agama?

Meski telah diklaim paling benar atau satu-satunya yang benar oleh para penganutnya (hingga lebih seru konfliknya ketimbang pengamalannya) dan ajaran-ajarannya sudah dilaksanakan oleh yang taat dan serius menganutnya dengan ragam referensi alirannya, pengertian agama (al-din) tak begitu jelas dan disepakati. Sudah menjadi ketentuan logis, definisi sesuatu adalah buah konsep adalah buah realitas yang terkoneksi nelalui korespondensi subjek dengan objeknya.

Adakah sebuah realitas objektif “agama” (yang mestinya menjadi bahan baku konsep, makna dan kata “agama”)? Umat manusia dengan aneka bahasa telah menggunakan aneka kata “agama”. Mestinya makna kata “agama” sejelas kata “kursi” yang nyaris tak diperdebatkan karena setiap orang bisa menemukan realitas personalnya dengan inderanya.

Definisi menurut logika (yang menjadi fondasi peradaban manusia) terbentuk oleh elemen genus (yang merupakan quiditas umum) dan deferensua (yang merupakan quiditas khusus) dengan sejumlah syaratnya. Kursi dapat didefinisikan sebagai benda padat (sebagai genus-nya) dan “penyangga bokong” (sebagai deferensia-nya). Lalu apa definisi agama? Apakah kata agama punya makna definitif? Apakah makna definitifnya berbasis realitas objektif yang mudah dikenali oleh subjek manusia? Apa komponen konsepnya? Apa genus dan deferensianya?

Beberapa hal perlu diklarifikasi, antara lain :
1. Bila mengikuti pakem logika dalam pendefinisian, maka definisi agama mestinya dibentuk oleh ajaran agama. Bila definisi agama didasarkan pada isi ajarannya, maka setiap penganut membuat definisi sendiri-sendiri. Mestinya definisi setiap sesuatu tunggal dan berlaku general.
2. Bila tidak mengikuti pakem logika dalam pendefinisian, maka agama tidak bisa didefinisikan. Bila tak didefinisikan, tak perlu diperdebatkan. Karena itu, lomba klaim kebenaran agama harus dihentikan. Bila dihentikan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed