IDE DAN REALITAS DALAM DIRI IMAM KHOMEINI

Kemarin mestinya mengajar sesi kedua kelas S2 jam 7 malam. Saya datang terlambat karena meninggalkan kelas sesi pertama dan menemui “dokter pribadi” alias langganan di daerah Jaktim untuk periksa pipi kanan yang tiba-tiba tembem. Selain macet dan hujan, jaraknya dengan kampus Sadra lumayan jauh. Alhamdulillah, meski lewat satu jam para mahasiswa bersabar menanti.

Mata kuliah pada sesi kedua adalah Studi Perkembangan Filsafat Islam Modern (Pasca Sadra) dengan subjek Pemikiran Imam Khomeni. Mahasiswa yang dapat tugas langsung memulai presentasi saat saya masuk kelas dengan penampilan ala buronan karena rada basah dan lebih kacau dari biasanya.

Usai presentasi, diskusi dan tanya jawab antara mahasiswa penyaji makalah dan para mahasiswa lain ditiadakan karena waktu untuk itu tak cukup. Saya langsung memberikan beberapa komentar penyempurnaan.

Salah satu buah pemikiran Imam Khomeini, yang diangkat dalam presentasi tersebut adalah Wilayatul Faqih.

Banyak pemikir, ulama dan tokoh sepanjang sejarah Islam terutama di era modern memberikan sumbangan ide dan merintis beragam usaha dan gagasan seperti Jamaluddin Afghani Asad Abadi, Muhammad Iqbal, Abu A’la Almaududi, Hasan Banna dan lusinan. Namun bisa dikatakan tak satu pun dari mereka merealisasikannya dalam sebuah realitas konkret. Selain tak hanya melahirkan ide, karena sebenarnya dia menghadirkan sebuah sistem pembentukan bangsa dan umat, Ruhullah Mustafawi mempersembahkan fakta konkretnya. Dia tak hanya menggerakan rakyat Iran, namun menyusun ulang sebuah bangsa sekaligus umat dalam sebuah formulasi yang didirikan di atas aksioma-aksioma ontologi, mistik, teologi moderat, fikih progresif dan wawasan kontemporer.

Alhasil, Wilayatul Faqih perlu dilihat sebagai ide multidimensional karena menggabungkan aspek divinitas dan humanitas, legitimasi sakral dan akseptabilitas profan. sebuah sistem yang menggabungkan Islam sebagai dimensi langit dan Republik adalah dimensi bumi. Sayangnya, sebagian besar orang tak memahaminya. Sebagian bahkan mencurigainya semat-mata akibat mindset stereotipe dan fanatisme sektarian.

Suatu saat saya ingin menulis tentang tema ini dalam sebuah makalah ilmiah atau menyampaikannya dalam sebuah forum resmi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed