JANGAN BILANG NABI TERTIPU HOAX!!

Kalau meyakini kemaksuman Nabi Muhammad SAW dianggap ghuluw atau kultus, bangga dianggap ghuluw.

Keghuluwan ini kita ekspresikan melalui penolakan terhadap semua riwayat teks dan kisah sejarah yang tak selaras dengan prinsip final kemaksuman manusia sempurna ini.

Segala atribut kemuliaan ada pada Nabi Muhammad SAW. Ia bahkan menyandang sifat rau’f, rahim dan sifat-sifat serta atribut terbaik lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌعَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS : 9 : 128).

Karenanya, semua atribusi mulia kita atasnya takkan menjangkau hakikat kemuliaannya.

Untuk yang menrgaskan sikap dan pandangan ini kita harus rela dianggap berbeda bahkan dianggap sesat dan harus lebih militan dari grup manapun untuk memperjuangkannya. Ini lebih dari penting dari kasus heboh vermak rupa.

Menanggapi pernyataan “Nabi termakan fitnah” lebih penting dari membicarakan berita ramai terbongkarnya hoax. Hal itu karena a) kasus tersebut telah ditangani Kepolisian, b) pernyataan “Nabi termakan fitnah” terkesan seperti pernyataan wajar dan dibiarkan bahkan didukung oleh sebagian orang, c) membedaki sebuah aksi kriminal berupa penyebaran dusta dengan tendensi kampanye hitam dengan justifikasi pernyataan bahwa Nabi SAW “termakan fitnah” dapat dianggap sebagai apologi absurd yang bisa diduplikasi dalam kasus lain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed