KECELAKAAN PESAWAT DAN TEOLOGI “TEBANG PILIH”

Beredar banyak video dan tulisan tentang orang-orang yang bersyukur karena merasa diselamatkan oleh Tuhan dari kecelakaan pesawat beberapa hari lalu diakhiri dengan peringatan dan ajakan percaya kemahakuasaan Tuhan. Orang-orang pun berlomba menyebarkannya.

Sekilas itu melukiskan sikap relijius yang mengharukan. Tapi tunggu dulu. Pernyataan syukur itu memunculkan banyak pertanyaan tentang keadilan, misalnya,:

Mengapa yang diselamatkan hanya sebagian kecil? Mengapa yang lebih banyak yang di dalamnya bayi dan balita tak diselamatkanNya? Mengapa Dia tidak mematikan mesin pesawat sebelum take off? Apakah beberapa orang yang tidak terbang dengan pesawat yang mengalami kecelakaan karena terlambat check in atau kendala lain diselamatkan Tuhan, sedangkan penumpang yang terbang tidak diselamatkan Tuhan? Mengapa Dia melakukan itu? Hanya ingin show of power atau hanya ingin membuktikan “suka-suka guwa”?

Pertanyaan yang lebih penting adalah : Bila memang setiap peristiwa adalah keputusan langsung Tuhan, mengapa virus ganas ini dibiarkan menulari banyak orang termasuk hamba-hamba yang taat dan saleh? Mengapa Dia tak mengambil keputusan pemusnahannya sehingga kita tidak terus dirundung cemas seolah menunggu giliran korban dan bingung menolak atau menerima vaksin?

Apakah beriman kepada Tuhan menciptakan justifikasi fatalisme yang mendorong subjek manusia merasa sudah beriman bila sudah menganggap hal-hal buruk yang menimpanya sebagai kehendakNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan menumbuhkan apologi subjektif bahwa hal-hal buruk yang menimpa semua orang sebagai kutukan atau azab akibat perbuatan buruk sebagian orang dan menerimanya dengan berserah kepadaNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan memantapkan hati untuk memastikan bahwa apapun yang menimpanya sebagai bukti dan isyarat agar mengakui ketakberdayaan manusia dan kekuasaan mutlakNya sesuai kehendakNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan melejitkan kesadaran holistik tentang realitas dan relasi niscaya kausalitas peristiwa dan fenomena sebagai bagian sistem yang telah ditetapkanNya dan menerimanya sebagai proses determinan kemudian berusaha mengenali sistem itu dengan akal dan beradaptasi dengannya dengan menghindari hal-hal yang bisa menjadi sebab terdekatnya?

Bila iman hanya menjadi dasar justifikasi fatalisme, maka itu adalah absurditas dan kebuntuan intelektual.

Bila iman berarti menjadikan semua makhluk sebagai bersalah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa karena ulah sebagian makhluknya, maka itu menkonfirmasi kezaliman dan menegasi keamahaadilanNya.

Bila iman berarti menganggap semua yang menewaskan banyak orang dan menyengsarakan kehidupan banyak bangsa hanya pelajaran, maka itu menafikan kemahabijaksanaan dan kemahakasihNya.

Bila iman mengaktifkan akal sehat untuk memahami realitas Tuhan dan alam serta manusia dan untuk mengenali relasi niscaya sebab terdekat dengan akibatnya dalam realitas alam agar mendekati yang berguna dan menghindari yang membahayakan, maka itu tak selaras dengan iman dalam pandangan pertama, kedua dan ketiga.

Doktrin irrasional tentang Tuhan dan keyakinan fatalistik tentang alam dan kehidupan telah membuat banyak orang cerdas yang tak menemukan jawaban alternatif memilih menjadi agnostik dan ateis.

Tuhan tak hanya mahakuasa namun juga mahabijaksana dan mahaadil.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed