KECEWA KEPADA AGAMA ATAU AGAMA PSEUDO?

Ada dua kelompok yang memberikan dua sikap berbeda secara ekstrem terhadap agama yang mendominasi pentas sosial. Salah satu kelompok menganggap agama sebagai pengganti sains. Kelompok lain menganggap sains sebagai pengganti agama. Banyak orang, karena menganut agama secara materialistik, menganggap agama sebagai solusi pengganti sain sampai-sampai memperlakukan doa, zikir dan ritus-ritusnya sebagai pengganti obat, pengganti usaha mencari rezeki material dan sistem yang bisa membatalkan hukum fisika serta kausalitas. Sebagian dari mereka, karena pemahaman irrasional ini, menjadi korban manipulasi agama dalam politik yang kini disebut politisasi agama dengan ujaran kebencian dan intoleransi.

Kelompok lain menganggap sains sebagai pengganti agama. Sebagian dari kelompok kedua enggan melepas agama secara total dengan dalih ia dapat digunakan sebagai sarana terapi jiwa atau cara mendekatkan diri kepada Tuhan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang dinafikan eksistensinya oleh sains, meski “tak memberikan solusi praktis”.

Alih-alih menyempurnakan pemahaman tentang agama, sebagian orang yang dikenal relijius berbalik sikap menentang agama secara umum dan agamanya sendiri secara khusus, akibat trauma menghadapi gelombang intoleransi dan “politisasi agama”, mengumumkan penentangan secara ekstrem, bahkan mendeklarasikan sekularisme sembari mengagungkan sains dan memandang agama dalam pengertian yang sempit.

Sikap ini bisa dipahami sebagai reaksi radikal terhadap sekelompok orang yang mengagungkan agama dan mengkafirkan sains. Faktanya kaum intoleran menganggap toleransi sebagai irrelijiusitas yang meremehkan agama. Sebagian yang toleran juga mengira begitu. Kaum intoleran juga menganggap toleransi sebagai irrelijiusitas yang meremehkan agama. Sebagian yang toleran memang melakukan itu. Sepak terjang agresif kaum intoleran mendorong sebagian pendukung toleransi mengambil reaksi ekstrem dengan mencemooh agama sendiri.

Bila tidak ditafsirkan demikian, maka ia bisa diperlakukan sebagai sikap reduktif yang bersumber dari premis-premis paradoksal.
Sebenarnya sekularisme bukanlah solusi tunggal untuk mengimbangi ekstremisme agama. Orang rasionsl bisa memberikan perlakuan rasional terhadap sains dan agama sebagai dua sarana berbeda dari berbagai tingkat pengetahuan yang dapat digunakan untuk mencapai kesempurnaan.

Sikap negatif terhadap agama ini juga akibat pencampur-adukan makna agama dengan makna “beragama” atau Islam dengan mengklaim Muslim. Tentu, tanpa membedakan ajaran dari prilaku keberagamaan bisa menciptakan kesimpulan dan pandangan yang invalid.

Ekstremisme ini juga menciptakan “islamic phobia”. Penolakan terhadap “politisasi agama”, misalnya, menjadi absurd bila predikasi atau pemberian atribut seperti “islami” (Islamic) divonis secara general sebagai usaha menipu. Generalisasi ini dalam logika tertolak dan tak berlaku dalam realitas empiris.

Bila diperhatikan secara seksama, pemberian label “Islamic” bisa positif dan bermakna “harapan”, dan bisa pula negatif dan culas serta manipulatif. Parameternya adalah output dari perilaku, bukan atribusi dan penyifatan. Ini berlaku bagi “demokrasi” pada sebuah partai (democratic) dan lainnya. Hanya karena beratribut “Islam” tak niscaya bertujuan menipu. Sekadar bernama partai demokrasi tak berarti benar-benar berperilaku demokratis. ISIS, misalnya, menjadi negatif bukan semata-mata karena mencantumkan atribut “Islamic”.

Apa yang disampaikan oleh beberapa orang yang beratribut “pemikir muslim” seperti Bassam Tibbi tentang Islam dan Islamisme merujuk pada pengalaman traumatik partikular dari manipulasi di balik atribusi Islam.
“Islamic State” dan beberapa contoh negatif yang berlabel Islam tidaklah negatif karena atribusi “islamic” tapi karena pandangan dan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya. “Demokratic party” dan sejenisnya tak niscaya positif karena tak berlabel Islam (“islamic”) dan tak mesti positif karena memajang atribut demokrasi (“demokratic) tapi karena pandangan, sikap dan perilaku orang-orang yang mengklaimnya. Lagi pula, di Jerman yang dikenal sebagai sentra sains dan sekularisme, justru politisasi agama berupa atribusi partai dengan agama juga di negara-negara Barat lainnya tetap terjadi. “Catholic Party” dan semacamnya ada bahkan berkuasa di sana.

Kita tak perlu mengubah rumah sakit sebagai pusat doa karena abstrakisasi yang konkret dan tak perlu mengubah masjid menjadi pusat kebugaran karena konkretisasi yang abstrak.Kita juga tak perlu memotong salib karena anti simbol agama atau mencurigai semua atribut Islam karena beberapa fakta orang-orang culas yang mengisi perut dengan pembodohan berkedok agama, dan tak perlu menganggap yang tak memajang atribut Islam sebagai kafir dan sekular.

Kecewa kepada agama pseudo yang disusun para tiran dan feodalis yang berkolaborasi dengan teolog bayaran sepanjang sejarah agama-agama mestinya tak merembet luas menjadi kekecewaan terhadap agama yang berdiri kokoh bersama sains. Keduanya tunduk pada kausalitas dan sistem eksistensi karena mengantarkan manusia menuju kesempurnaan eksistensial.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed