KERANCUAN TENTANG KESEMPURNAAN

Kata “sempurna” dipahami oleh banyak orang sebagai sesuatu yang tak bermakna, utopis dan imajinal karena diidentikkan dengan Tuhan. Padahal setiap entitas punya kriteria dan pakem kesempurnaannya sendiri-sendiri.

Banyak pula yang mencurigai kata “sempurna” sebagai kata dengan makna hegemoni, dominasi, dan tirani atau kultus karena kelumpuhan nalar untuk membedakan makna dan terapan partikularnya dalam fenomena.

Sebagian kelompok yang menolak ide aksiomatik “manusia sempurna” dan “kesucian” (disebut kemaksuman dalam teologi) dengan dalih “tak ada manusia sempurna” justru terjebak dalam sengketa berabad dan berkonflik karena saling mengklaim otoritas dan saling menuntut kepatuhan tanpa dasar keunggulan (kesempurnaan relatif).

Karena gemar berapologi dan enggan mengubah diri, “tak ada manusia sempurna” menjadi kata sakti memproteksi diri dalam nihilisme.

Karena tak memahami makna paripurna “kesempurnaan”, banyak orang berseloroh “tak ada manusia sempurna”.

Klaim tak ada manusia sempurna (dalam pengertian kesempurnaan sebagai manusia) justru menafikan adanya “manusia” sama sekali.

Sering pula kata relatif (yang diartikan temurun sebagai lawan dari “sempurna”)) dipakai secara serampangan demi menolak norma, pakem dan batasan rasional karena menghindari konsekuensinya.

Ada dua pengertian “sempurna”, yaitu absolut atau mutlak dan relatif atau nisbi. Parahnya, banyak pula yang tak memahami perbedaan absolut dan relatif dalam fisika dan metafisika.

Kesempurnaan absolut adalah kesempurnaan tanpa bandingan dan tanpa batasan atau kesempurnaan pada dirinya. Sedangkan kesempurnaan relatif adalah kesempurnaan dengan bandingan dan batasan atau kesempurnaan karena sesuatu di luar dirinya.

Setiap entitas mulai dari kecoak sampai manusia punya kesempurnaan sesuai dengan esensi dan quiditas spesiesnya. Ada makna absolut “kecoak yang sempurna” yang berlaku atas semua persona tanpa bandingan. Ada pula makna relatif “kecoak yang sempurna” dalam realitas objektif sebuah lalat dibanding lalat lainnya. Ini berlaku juga atas manusia.

Kesempurnaan dalam makna absolut dan dalam makna relatif bagi semua entitas efektual (dalam ontologi) dan makhluk (dalam teologi) seperti manusia dan semua isi alam ciptaan termasuk kecoak adalah kesempurnaan tak hakiki.

Artinya, terapan makna sempurna absolut pada Tuhan dan makhluk tidaklah sama. Secara umum, absolut dan sempurna pada makhkuk tetaplah tidaklah absolut dan tidak sempurna pada dirinya. Karena itulah, sering dikatakan bahwa manusia itu relatif.

Karena hampir tak ada manusia sempurna, Tuhan hadirkan manusia-manusia sempurna sebagai prototipe, model dan teladan.

Bila agama tak mendorong kepada kesempurnaan, apa yang tersisa darinya? Itulah absurditas berbungkus agama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed