KONSPIRASI MERAHASIAKAN TRAGEDI KARBALA

Bila mengingat Karbala, umat sadar siapa panutan suci. Bila sadar, pengaruh para pedagang agama lenyap. Karenanya Asyura ditutupi.

Bila Asyura diperingati, umat tolak dongeng kesaktian para pengamen agama yang jadikan relijiusitas irrasional sebagai modal dominasi. Karenanya kisah perlawanan Al-Husain diganti tausiyah pembius dan cerita mimpi.

Bila pengorbanan Al-Husain dinarasikan, umat sadar bahwa panutan tak hanya beri nasihat di mimbar dan hidup tanpa debu. Bila sadar, bubarlah feodalisme bersampul jubah. Karenanya, Muharam dilukiskan sebagai bulan gembira.

Bila Karbala diperingati, umat tahu bahwa para tokoh yang telah dipuja memilih bisu, tuli dan buta ketimbang mendukung Al-Husain. Bila sadar, berakhirlah dusta sepanjang masa. Karenanya, figur-figur tak suci disucikan.

Seorang habib di Pasuruan mencemooh orang-orang menepuk dada meratapi kesyahidan Al-Husain. Padahal dia dipanggil habib dan dipuja karena keagungan Al-Husain. Karena terlanjur dipuja sebagai suci padahal gadungan, pengamen berjubah ini leluasa ngomong apapun.

Jelaslah, orang yang telah hidup nyaman menikmati hak istimewa sebagai junjungan bagi awam relijius yang dibius dengan doktrin dan folklor pasti terusik oleh ltumbuhnya kesadaran ltentang pemilik sah hak istimewa itu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed