“MAHA SUKA-SUKA”

“Bukankah selamatnya sebuah masjid secara utuh di tengah rumah-rumah yang hancur dihantam Tsunami adalah bukti bahwa bencana-bencana adalah azab atau takdir?”

Pertanyaan ini dilontarkan seorang peserta kajian online beberapa hari lalu sebagai tanggapan atas beberapa bagian dari presentasi saya yang menolak anggapan pandemi Covid 19 ini sebagai azab Tuhan (sehingga manusia harus menerima pasrah, menyalahkan diri sendiri dan bertobat) atau keputusan mendadak Tuhan karena kehendakNya (sehingga hanya perlu direspon dengan sabar dan tawakal serta penyembahan).

“Begini. Saya memilih tidak mengulang presentasi tentang azab dan takdir. Saya juga telah membahasnya dalam sebuah tulisan di Facebook juga video di Youtube. Bila dianggap kurang jelas, silakan membacanya atau menyimaknya. Namun saya tertarik oleh “masjid yang diselamatkan Tuhan” dalam pertanyaan anda.

Mungkin aggapan “penyelamatan” ini didasarkan pada anggapan masjid sebagai “rumah Allah”.

Pertama: Masjid punya dua macam makna, yaitu khusus dan umum. Masjid dalam pengertian khusus adalah sebuah bangunan khusus yang dijadikan tempat shalat dan ibadah lainnya. Masjid dalam pengertian umum adalah bumi.

Kedua : “Rumah Allah” adalah sebutan metafora yang tidak mengandung makna sejati yaitu bangunan yang dijadikan tempat tinggal, karena Ia tak bertempat. Artinya, masjid yang tak roboh saat diterjang tsunami bukan karena Allah ingin menyelamatkan tempat tinggalNya. Itulah “rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS. An-Nur: 36). Disebut “rumah Allah” karena di situlah nama-nama agungNya disebut dan dikumandangkan.

Ketiga : Bangunan disebut masjid karena aktivitas sakral shalat, berzikir dan ibadah lainnya yang hanya bisa terjadi bila manusia menjadi pelaksananya. Artinya, a) penyebutan masjid bergantung pada aktivitas ibadah; b) ibadah hanya terjadi bila manusia melaksanakannya.

Keempat : Masjid disebut rumah Allah karena di dalamnya manusia menyebut dan menagungkan nama-namaNya yang suci. Satusnya sebagai “rumah Allah” bukan karena bangunannya, tapi manusia yang beribadah di dalamnya dan karena tujuan di balik pendiriannya.

Terlepas dari fakta keunggulan kualitas bangunan masjid yang umumnya lebih megah dan kokoh dari sekolah dan rumah penduduk, tak tertutup kemungkinan ada masjid lain di wilayah yang terkena tsunami juga roboh dan tak “diselamatkan”.

Terlepas pula dari anggapan “masjid yang diselamatkan Tuhan” ini logis atau tidak, mungkin fakta serupa juga dialami oleh rumah ibadah penganut agama lain di wilayah itu atau wilayah lain yang juga dilanda bencana besar.

Tanpa mempersolkan soal logis atau tidaknya anggapan “penyelamatan” Tuhan dalam bencana yang juga dianggap sebagai “keputusan”-Nya, yang perlu dijawab:

1. Mengapa Tuhan hanya menyelamatkan batu dan semen, bukan manusia sebagai pelaku ibadah yang karenanya bangunan itu disebut masjid?
2. Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan bumi yang ditegaskan olehNya sebagai masjid agar manusia di dalamnya, terutama para pelaku shalat dan iibadah, selamat?
3. Apakah masjid (tempat bersujud) lebih mulia dari pelaku sujud? Apakah batu dan bangunan lebih penting untuk diselamatkan ketimbangkan nyawa dan kehidupan manusia?
4. Tidakkah anggapan “Tuhan menyelamatkan rumahNya” saat ribuan hambaNya yang tak berdosa wafat, teruka secara fisik dan mental justru meniscayakan penafian kemahaadilan, kemahabijaksaan dan sifat-sifat agung yang hanya dimiilkiNya?

Ringkasnya, kebertuhanan dan keberagamaan ranpa akal sehat adalah bencana yang lebih berbahaya dari tsunami dan pandemi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed