MAJELIS DAN ULAMA

Dua kata di atas tertempel pada hampir semua benda yang dijual di warung dan super market dari terasi sampai mesin cuci. Dialah penjamin keselamatan umat konsumen dari dosa dan apapun yang haram. Dua kata itu cukup sakti untuk membuat banyak orang tunduk seolah itulah perkumpulan manusia-manusia pilihan Tuhan.

Mungkin inilah perkumpulan paling rajin memberikan tanggapan terhadap setiap fenomena bahkan yang sama sekali tak terkait dengan status organisasinya, mulai dari penyesatan sampai memastkan Corona sebagai akibat konsumsi babi. Entah bagaimana asal muasal ceritanya banyak orang termasuk sebagian pejabat memposisikannya seolah sebagai salah satu lembaga negara, padahal hanya LSM.

Majelis adalah serapan Arab (jalasa, جَلَسَ) yang arti primernya adalah duduk. Majelis adalah kata olahan generik (المَجْلِسُ) dengan modus maf”il (tempat perbuatan) sebagai kata benda (ism) bermakna empat duduk. Artinya sekadar bikin perkumpulan dengan nama Majelis tak otomatis hebat. Majelis adalah tempat duduk-duduk. Cafe dan warung juga bisa dianggap majelis. Semakna dengan itu adalah majelas. Hanya saja majelas jauh lebih soft karena tak identik dengan pernyataan ngawur dan fatwa serampangan juga label orderan.

Ulama (bahasa Arab: العلماء, secara etimologis adalah ‘orang-orang berilmu’. Arti etimologis sangat luas. Alim bisa berarti orang yang memang bepengetahuan secara umum juga atribut bagi orang yang dianggap berpengetahuan.

Dalam bahasa Arab modern, alim (ulama) digunakan untuk saintis, dan ahli agama disebut alim din atau alim dini. Secara terminologis ulama adalah para pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama.

Dalam pandangan masyarakat awam, ulama adalah siapapun yang terlihat atau dikenal sebagai ulama. Ia tak meniscayakan kompetensi dalam bidang tertentu.

Banyak ayat dan riwayat yang mengagungkan posisi ulama. Tapi masalah tidak selesai dengan pertanyaan di atas. Apa kriteria, definisi dan parameter baku keulamaan?

Disebut “ulama” karena takut kepada Allah, bukan karena mengaku ulama.Dalam al-Quran tertera ayat “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Fathir: 28)

Dalam ayat ini orang-orang berpengetahuan (ulama) berposisi sebagai subjek (pelaku, fa’il). Kata Allah berposisi sebagai objek (maf’ull) yang didahulukan. Tujuan peletakan kata ulama sebagai subjek dan Allah sebagai objek memberikan penegasan bahwa yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang berpengetahuan. Dengan demikian, maka ayat tersebut bermakna “para ulama adalah orang yang takut kepada Allah.” Bila subjeknya didahulukan, pastilah pengertiannya adalah “Sesungguhnya para ulama takut kepada Allah.” Permaknaan demikian tidak dibenarkan, karena berarti ada di antara para ulama yang tidak takut kepada Allah.

Ulama sejati adalah yang suci kemudian yang mengikuti yang suci. Parameternya jelas. Semua atribut baik dan derivatnya, seperti mu’min, alim, aqil, muttaqi, saleh, muhsin dsb adalah predikat sejati bagi yang suci.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed