MASYARAKAT BERPANCASILA

Perilaku adalah cermin kesadaran dan keterikatan kepada prinsip, bukan simbol dan seremoni atau klaim. Semua orang pasti mengungkapkan dan mengaku mengikuti norma mulia, termasuk pembunuh rasial George Floy yang berseragam polisi.

Pancasila bisa dilihat dengan cara; a) secara simbolik, yaitu apapun yang menandainya sebagai kemasannya; b) secara ideal adalah norma-norma dan cita-cita yang tersimpan di balik simbol itu.

Simbol diungkap dengan tanda-tanda dan semua ekspresi penghormatan visual, verbal dan seremonial. Ide diungkap dengan koherensi sikap dan tindakan. Pada masa Orba Pancasila diekspresikan secara simbolik dalam skala luas dengan pola represif semata. Kini banyak anggota masyarakat, yang mungkin dulu menolak Pancasila karena dipaksakan dan dipuja sebagai simbol semata, mulai menerimanya karena kesadaran akan relevans nilai-nilai yang dikandungnya. Namun fakta-fakta belum mendukung kesimpulan tentang terbentuknya masyarakat berpancasila.

Terlindunginya hak minoritas tak hanya ditentukan oleh pemerintah yang adil tapi juga ditentukan oleh masyarakat yang toleran. Itulah masyarakat bepancasila.

Masyarakat yang berpancasila pastilah tidak mengobral ujaran kebencian kepada ras dan suku hanya karena ulah segelintir orang berperilaku buruk dan tidak menyebut sesama pemegang NIK dengan kampret, cebong, kadal, onta dan monyet karena ulah individu-individu negatif dari suku minoritas atau karena perbedaan pilihan politik tanpa memikirkan dampak psikis dan sosialnya.

Bangsa yang pantas mensyukuri Pancasila adalah yang tak abai terhadap nasib sesama warga apapun agama, dan alirannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed