MEMAHAMI ANATOMI KEPATUHAN

Ciri khas Tuhan adalah kewenangan atau kekuasaan. Ciri khas selain Tuhan adalah ketundukan atau kepatuhan. Artinya, Tuhan tak punya kepatuhan. Dengan kata lain, Tuhan hanya punya kekuasaan. Selainnya tak punya kekuasaan. Dengan kata lain, selainNya hanya punya kepatuhan.

Kekuasaan adalah menetapkan, memerintahkan dan mengendalikan. Kepatuhan adalah menerima ketetapan, perintah dan pengendalian. Kepatuhan kepada Tuhan meniscayakan perlawanan alias resistensi terhadap tuhan palsu yang mengklaim kekuasaan.

Kepatuhan, berdasarkan peringkat, dapat dibagi dua;

  1. Kepatuhan mutlak, yaitu kepada tak bersyarat meliputi semua aspek selamanya.
  2. Kepatuhan primer dan esensial, yaitu kepatuhan mutlak kepada Tuhan semata.
  3. Kepatuhan sekunder dan aksidental, yaitu kepatuhan mutlak kepada penerima langsung kewenangan dari pemegang kewenangan mutlak primer dengan syarat kesucian takwini.
  4. Kepatusn sekunder dan aksidental yaitu kepatuhan mutlak kepada penerima langsuhg kewenangan dari penerima kewenangan dari penerima langsung kewenangan mutlak.
  5. Kepatuhan muqayyad, yaitu kepatuhan kepada penerima kewenangan dari pemegang kewenangan mutlak bersyarat keadilan, ijtihad, inisiasi aktualisasi kewenangan dari pemegang kewenanangan mutlak (yang bila sewaktu-waktu syarat legal dan moral (yang telah ditetapkan maka gugurlah kepatuhan).

Berdasarkan relasinya dengan kekuasaan Tuhan, kepatuhan terbagi dua sebagai berikut:

  1. Kepatuhan takwini (natural, determinan), yaitu kepatuhan determinan semua ciptaan kepada Pencipta dalam kausalitas meliputi semua ciptaan. Inilah yang disebut hukum kemakhlukan.
  2. Kepatuhan tasyri’i (yuridprodensial, legal, formal) yang berlaku atas sebagian ciptaan yang memperoleh taklim, yaitu manusia dan jin. Inilah yang disebut hukum kehambaan.

Kepatuhan, berdasarkan motif, terbagi dua:

  1. Kepatuhan dokrrinal, yaitu kepatuhan atas dasar doktrin yang dijejalkan setelah menolak peran akal sehat dan logika sebagai sarana penetapan kewenangan.
  2. Kewenangsn rasional, yaitu kepatuhan yang bersumber dari kesadaran pribadi sebagai konsekuensi argumen logis yang mengharuskan kepatuhan kepada yang sah sebagai pemegang kewenangan secara rasional.

Kepatuhan, berdasarkan substansinya, terbagi dua;

  1. Kepatuhan vertikal, yaitu kepatuhan kepada pihak yang posisinya lebih tinggi dan berhak memimpinnya. Inilah kepatuhan sejati.
  2. Kepatuhan horisontal, yaitu yaitu kepatuhan kepada pihak yang berkedudukan setara dengan pihak yang mematuhinya karena kesepakatan atau kontrak dalam institusi perusahaan, rumahtangga, negara dan lainnya.

Berdasarkan areanya, kepatuhan terbagi dua, yaitu

  1. Kepatuhan abstrak, yaitu kepatuhan yang terjadi dalam domain abstrak, meliputi:
  2. Kepatuhan intelektual adalah menerima atau menolak berdasarkan intelek alias akal sehat alias ilmu (mengetahui yang benar) yang bersanding dengan anti ilmu (tak mengetahui yang salah). Objeknya adalah “apa” seperti Nubuwah.
  3. Kepatuhan emosional adalah meyakini dan menentang berdasarkan emosi alias perasaan alias cinta (kepada yang benar) yang berbarengan dengan benci (kepada yang palsu). Objeknya adalah “siapa” seperti Nabi.
  4. Kepatuhan konkret adalah kepatuhan yang terjadi dalam domain konkret atau kepatuhan aktual.

Kepatuhan aktual adalah melakukan apa yang diketahui dan dicinta dan tak melakukan apa yang bertentangan dengan diketahui dan dicintai. Kepatuhan aktual terbagi dua, a) kepatuhan aktual vertikal, disebut Ibadat; b) kepatuhan horisontal disebut muamalat.

Kepatuhan intelektual dan kepatuhan emosional adalah iman. Sedangkan kepatuhan aktual adalah amal.

Orang yang menolak kepatuhan pasti mematuhi dirinya sendiri. Dialah tuhan mini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed