MEMILIH ORANG, MEMILIH PIKIRANNYA

Salah satu tindakan terberat adalah mengubah mindset. Inilah biang intoleransi, kekacauan dalam hidup dan konflik.

Mindset adalah pikiran yang diterima subjek dan memasuki benaknya karena benaknya tak memuat pikiran lain yang menolaknya.

Mindset adalah pikiran primer yang melahirkan aneka pikiran yang selaras dengannya lalu menjadi pengarah perbuatan dan sikap subjek.

Karena telah menjadi bagian dari rasa aman dan nyaman, sebagian orang menganggap mindset sebagai infrastruktur semua pandangan, sikap dan perilaku.

Akal yang dilengkapi dengan logika dan agama yang dilengkapi dengan sistem otoritas kenabian menghindarkan manusia dari mindset kesiapaan alias kultus tanpa parameter fitrah dan rasio.

Manusia harus mencerap sebanyak mungkin info dan pernyataan dari siapapun lalu menyulingnya dengan akal selanjutnya menerapkannya dengan pedoman agama.

Dengan menjadikan akal sehat sebagai juri, manusia tidak bingung saat menghadapi aneka fenomena, menerima ragam pernyataan bahkan yang saling bertentangan, terhindarkan dari fanatisme, pemutlakan negatif dan positif serta sangka buruk dan salah paham yang kerap mengundang polemik tak produktif.

Dengan bertahkim dan patuh kepada akal sehat, manusia juga berbesar hati dengan mengubah pandangan, menganulir pernyataan dan meninjau kembali langkah dan tindakannya.

Namun, mindset tak selalu invalid dan bersumber dari doktrin irrasional. Dengan akal sehat, manusia kadang justru harus mempertahankan pikiran-pikiran yang telah diyakininya secara argumentatif.

Manusia rasional tak segan mengubah pandangan irrasionalnya, juga tak mudah menganulirnya bila dapat mempertahankannya dengan aksioma-aksioma rasional. Inilah sikap moderat.

Platform ini berlaku universal dalam semua lini kehidupan, termasuk dalam menyikapi fenomena sosial dan politik yang dinamis.

Apa yang telah, sedang dan akan berlangsung di pentas politik adalah serangkaian pandangan yang terpantul pada prilaku, keputusan dan tindakan orang-orang yang berada di atasnya. Dengan kata lain, penyikapan rasional harus terarah kepada pikiran alias ‘apa’ di balik ‘siapa’, siapapun dia.

Memilih seseorang sebagai isteri, suami, mitra kerja, kades hingga presiden dan wakilnya, pada hakikatnya adalah memilih pikiran-pikirannya dan tindakan serta perilaku yang merupakan produknya. Pemilih tidak memilih onggok daging dan rangka tulang yang menjadi piranti kerasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed