MENDUKUNG DAN MENENTANG

Mendukung secara epistemologis berarti
nenerimanya dan memperkuatnya. Alasannya bisa bervariasi; kebenaran dan kebaikan atau keuntungan dan kemenangan. 
Menentang secara etimologis berarti menolaknya dan berusaha melemahkannya. Alasannya juga bisa bervariasi; kepalsuan dan keburukan atau kerugian dan kekalahan. 
Bila objeknya merupakan dua hal berlainan, mendukung dan menentang bisa muncul sebagai dua sikap yang berlainan pula meski subjek pemberi sikap tak berlainan alias satu subjek.
Orang menganggap keuntungan dan kebenaran sebagai dua kata dengan satu makna dan relasi keduanya sebagai kesamaan atau keidentikan, niscaya mendukung dan menentang karena keuntungan alias demi memburu keuntungan.
Orang yang menganggap kebenaran dan keuntungan sebagai dua kata berlainan dengan dua makna berlainan dan menganggap pertentangan sebagai relasi antar keduanya, serta mengutamakan keuntungan atas kebenaran tentu mendukung dan menentang apapun dan siapapun karena keuntungan alias demi mengejar keuntungan.
Orang yang menganggap kebenaran dan keuntungan sebagai dua kata berlainan dengan dua makna berlainan dan memastikan irisan sebagai relasi antar keduanya serta mengutamakan kebenaran atas keuntungan, pasti mendukung dan menentang apapun dan siapapun karena kebenaran meski pasti atau mungkin tak memperoleh keuntungan berupa kemenangan dan keberkuasaan.
Namun sepantasnya orang yang bertuhan dan beragama dengan akal sehat mendukung dan menentang siapapun dalam politik dan lainnya atas dasar alasan yang logis yang bersumber dari data valid dan fakta yang benderang.
Alasan mendukung apapun didasarkan atas tiadanya alasan-alasan menentangnya. Alasan menolak apapun didasarkan atas tiadanya alasan-alasan mendukungnya.
Bila tak menemukan bukti-bukti nyata yang menjadi alasan valid untuk menentang sesuatu, maka akal sehat memutuskannya sebagai objek positif yang mesti didukung 
apapun dan berapapun risiko serta siapapun yang ditentangnya.
Bila menemukan bukti-bukti nyata yang menjadi alasan valid untuk menentang sesuatu, maka akal sehat memutuskannya sebagai objek negatif yang mesti ditentang apapun dan berapapun risikonya serta siapapun yang ditentangnya.
Dalam kontestasi politik kebenaran dan keuntungan terkandung dalam visi, misi, asas, program, kinerja dan sejumlah alasan, bukan siapa pendampingnya dan apa partai pendukungnya.
Paradigma kebenaran dan kebaikan bercorak kualitatif dan abstrak. Sedangkan paradigma keuntungan dan kemenangan bercorak kuantitatif dan konkret.
Pendukung dan penentang yang menggunakan keuntungan sebagai paradigma dalam arena politik menganggap ‘apakah menguntungkan’ lebih penting dari “siapakah yang menguntungkan.”
Pendukung dan penentang yang menggunakan kebenaran sebagai paradigma dalam arena politik  menganggap ‘apakah benar’ lebih penting dari “siapakah yang benar.”
Pendukung dan penentang tanpa paradigma pragmatisme dan moralisme mencari “apakah menguntungkan” dan tak mencari “siapakah yang menguntungkan”, juga tak mencari “apakah benar’ juga “siapakah yang benar.”
Karena salah satu pasangan yang diumumkan dianggap tak menguntungkan, maka sebagian publik yang menganut pragmatis tak memilihnya.
Karena salah satu pasangan yang diumumkan dianggap tak benar, maka sebagian publik yang menganut moralisme tak memilihnya.
Terjadilah rotasi dan konversi politik pada level elite dan awam. Petahana yang mungkin semula pede mulai terlihat cemas dengan suara-suara kecewa yang santer di media sosial. Upaya persuasi dilakukan secara demonstratif, termasuk memohon kepada figur terzalimi yang kini menjadi ikon resistensi hipokrisi politik untuk memberikan dukungan demi menghalau arus kekecewaan. 
Di seberang, penantang masih berusaha membela diri dari tudingan ingkar patuh kepada orang-orang yang secara simsalabim menjadi grup penekan yang mengungguli parpol-parpol melalui pengkarbitan santri sambil mempertahankan kesolidan kubu yang terancam oleh isu 1 triliyun.
Grup penekan yang telah menjadi kekuatan politik lintas parpol dan ormas berkat keberhasilan memenjarakan orang yang semula sangat populer itu kini punya jejak di dua kubu tersebut. Yang pasti, negara ini menuju relijiusitas politik alias politik identitas makin kuat.
Di luar kericuhan di lapisan elit, lapisan alit yang terbelah dua, pendukung  petahana dan penantang tak terlihat terpengaruh. Meski tampak sama-sama gigih memuji tokoh dukungannya dan mencemooh tokoh seberang, pada faktanya  mereka menjadikan sikap mendukung dan menentang sebagai alasan menyalurkan adrenaline yeng menggelegak.
Romantisme korsa sesama yang dengan bangga mengaku cebong juga kampret dengan segala keharuan dan sensasi perdebatan hingga putus cinta pasangan beda pilihan politik terlalu ‘indah’ untuk berakhir cepat. Berkat ini, skill bikin meme, edit foto dan video terasah. Berkat ini pula tak sedikit orang biasa-biasa saja jadi seleb sosmed. 
Politics is not only for power but also for fun!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed