MENYIKAPI “TEKS-TEKS CABUL”

Beredar video ceramah salah satu ustadz tenar pujaan umat yang mengutip sebuah teks yang dihubungkan dengan pribadi agung teladan super umat tentang anjurannya kepada isteri yang sedang haid mengikat kemaluannya supaya bisa melayani hajat seksualnya.
 
Ceramah bertema cabul terkutip dari teks yang dianggap hadis tak hanya disampaikan oleh para ustadz berpaham wahabi atau salafi. Di kampung-kampung dalam acara nikah, tasyakuran dan sebagainya tema seputar alat reproduksi menjadi menu favorit yang menjadi jaminan berlimpahnya khalayak. Nampaknya yang lebih diminati bukanlah konten yang biasanya hanya pengulangan tapi verbalisasi erotikal sang agamawan yang piawai membangkitkan fantasi liar menjadi daya tariknya sebagai bekal implementasi penyimak seusai bubaran.
 
Dalam acara apapun dan tema apapun yang dipajang dalam poster dan backdrop, kupasan utamanya tetap wanita, istri, poligami, senggama, bidadari, kelamin dan semacamnya. Hadirin yang meluber akan tertawa terpingkal-pingkal, termasuk ibu-ibu yang menjadi objek utama. Reaksi itu menjadi isyarat akseptabilitasnya bagi agamawan yang sedang stand up di panggung.
 
Karena itu, demi meningkatkan animo dan menggenjot popularitasnya, sang ustad harus bekerja keraa menghimpun bahan-bahan celoteh lucah terbaru dan orisinal, terutama teks-teks yang dianggap hadis.
 
“Kelak di surga tak ada lagi yang mengalami men…” Sang ustadz berhenti sejenak. Hadirin menahan napas. “… baik menstruasi maupun mencret” lanjutnya. Tawa lepas hadirin menggedor tumpukan speaker raksasa. Acara pengajian pun dinilai sukses. Cerita di atas adalah contoh paling sopan.
Bila bersedia jujur, umat ini tak punya kharisma di hadapan umat-umat lain karena tak memelihara respek rasional terhadap ajaran dan pembawa ajarannya. Terlalu banyak teks irrasional dan tak senonoh yang justru mendermakan amunisi kebencian dan mendistribusikan bahan cemooh.
Yang lebih penting dari teriakan kecaman adalah mempertanyakan banyaknya teks berkonten tak senonoh dalam khazanah periwayatan yang dianggap kredibel dan representarif (mu’tabar).
 
Sembari tetap mengecam sikap intoleran dan islamphobia yang diekspresikan melalui penghinaan kepada Nabi dan Islam, para penganut perlu melakukan introspeksi, evaluasi dan autokritik dengan mengedepankan akal sehat (logika) sebagai tolok ukur dalam menyortir teks-teks yang menabrak prinsip kesucian dan keagungan Nabi SAW.
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed