MUDAHNYA JADI INTOLERAN ZAMAN NOW

Seusai menemui teman di kantornya saya mohon izin nongkrong di pos untuk memesan ojol. Satpam yang sedang khusyuk melototi ponselnya mempersilakan saya duduk di sebelahnya.

Selama 3 menit penantian driver, karena suara di ponselnya cukup keras, kepo mendorong saya mengintip. Rupanya itu video youtube perdebatan sengit.

Apa itu pak? tanya saya.
“Oh, anu… debat antara pendeta dan muallaf soal Kristen,” jawabnya tanpa menoleh.

Wuih… Saya memerhatikan wajah pria berkumis tebal itu sejenak. Tersenyum bila si muallaf bicara lalu bersungut menahan dongkol ketika si pendeta angkat suara. Rupanya api relijiusitas sedang membakarnya.

Setelah melihat bagian bawah celana panjangnya belum digunting, saya bergumam dalam batin, bila terus menerus menonton tayangan seperti itu, tak lama lagi satpam ini akan “berhijrah”.

Sekarang untuk menjadi intoleran tak perlu masuk halaqoh atau liqo dan masuk tadrib organisasi berlabel khilafah. Sosmed menyiadakan semuanya.

Hedeuuh… Driver bejaket kumel datang dengan motor manual dan berumur. …!

Saya tinggalkan calon radikalis itu.

Permisi pak.

Oya, mari…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed