MUNGKIN

Sebagian manusia dalam beragama, berpolitik, berbisnis dan aktivitas lainnya dalam interaksi sosial cenderung terbelah antara menerima dan menentang. Padahal bila tak cukup alasan menentukan sikap afirmatif dan negatif, ada ruang besar yang bisa dijadikan tempat transit. Itulah kemungkinan.

Mungkin adalah kata serapan dari kata Arab “mumkin” yang serumpun dengan kata dasar Imkan dan kata kerja amkna dan yumkin. Ia searti dengan possible dalam bahasa Inggris.

Dalam ontologi, imkan adalah sifat dasar quiditas yang didefinisikan sebagai entitas yang tak pasti ada dan tak pasti tiada. Ia melahirkan sejumlah predikat esensial lainnya seperti bergantung yang lazim disebut rabith atau dependen, hadits atau bermula dan sebagainya. Secara umum, imkan atau kemungkinan adalah sistem perubahan dan keakibatan.

Alam, yaitu selain Tuhan, adalah domain serba mungkin dan ketakpastian. Perubahan adalah konsekuensi niscaya eksistensinya. Karena itu, “satu-satunya yang tak berubah dalam makhluk adalah perubahan itu sendiri” menjadi semacam guyonan serius dalam stoa filsafat

Lawan dari mungkin atau tak pasti adalah dua kepastian, yaitu kepastian yang disebut dalam bahasa Arab dengan wujud atau dharurah dan kepastian tiada yang disebut dengan imtina’ atau istihalah (kemustahilan).

Ada tiga makna terapan atas kemustahilan sebagai berikut:
1. Kemustahilan primer, yaitu kemustahilan subjektif (dalam ide) dan objektif (dalam realitas).

Muara kemustahilan ini adalah pertemuan ada dan tiada dalam satu pikiran, seperti menulis dan tak menulis atau Labib dan bukan Labib. Kemustahilan ini disebut kemustahilan primer takkan pernah terjadi dalam pikiran, apalagi dalam realitas.

Hukum aksioma ini melampaui dogma agama dan sains.

2. Kemustahilan sekunder, yaitu kemustahilan objektif (dalam realitas) semata. Kemustahilan ini bisa terjadi dalam benak namun tak terjadi dalam realitas.

Fantasi dan semua pikiran invalid seperti kuda terbang atau peristiwa tanpa sebab dan semacamnya adalah hal-hal yang bisa terjadi dalam kanvas ide namun takkan menjadi nyata atau takkan terjadi dalam realitas.

Sebagian atau sebagian besar orang tak membedakan dua macam kemustahilan di atas karena tak memahami makna kemustahilan dan keburu menggunakannya. Akibatnya, terjadilah kerancuan dan kesalahpahaman yang potensial menciptakan polemik tak produktif bahkan konflik.

3. Kemustahilan popular, yaitu sesuatu yang pada dasarnya bisa terjadi dalam pikiran dan realitas namun dianggap mustahil karena minimnya data valid yang bisa dijadikan sebagai dasar.

Sebagian besar penolakan terhadap pandangan dan keyakinan orang yang berbeda adalah buah dari kebodohan.

Orang yang sadar relativitas, sadar kemakhlukan dan sadar keterbatasan, tak gegabah memastikan atau menolak. Manusia sadar logika lebih rajin menggunakan kata mungkin, boleh jadi, belum tentu, tak niscaya, kadang, sebagian, tampaknya, “bisa dianggap” dan semacamnya demi membuka peluang dan hak orang lain untuk memilih pikiran dan sikap yang berbeda. Inilah toleransi dengan akal sehat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed