‘NEW CINGKRANGER’

Kemarin saya beruntung karena dijemput dengan mobil online lumayan bagus bermerek Toyota Sienta. “Mobilnya bagus tapi sopirnya sepertinya cingkrang,” bisik Pak Aziz, manager dapur kantor yang jadi rumah penampungan saya. Saya cuma mesem-mesem menangkap kerisauannya.

Seperti makhluk hidup, sekali jamah, pintu bergeser sendiri. Dia menyambut saya dengan ramah begitu duduk di kursi belakang. Sapaan sopan kepada customer semacam ini sudah menjadi fitur template. Saling nyapa singkat pun berakhir. Mobil bergerak. Bunyi elektrik yang terbit dari dashboard bukan ceramah ustadz dari Radio Rujak, Ketoprak dan sejenisnya tapi lagu dari negeri super kafeer, ‘SoulMate’ yang dilantunkan Justin Timberlake.

Sambil mengamatinya dari belakang saya pastikan dia masih muda. Di bagian bawah wajahnya yang fresh itu bergelayutanlah seikat helai rambut yang menjulur dan bergoyang lirih mengikuti ayunan dagu.

Lazimnya, jenggot kiwir-kiwir dan Timberlake bertabrakan secara frontal di kepala saya. Yang pertama menghadirkan sebuah gambar tentang relijiusitas sengit. Yang kedua mengungkap modernitas genit. Keduanya dalam mobil ini sedang berkelindan.

Saya terganggu oleh panorama tak wajar ini. Setelah menimbang dua asumsi, saya unggulkan anggapan simple bahwa pengendara muda ini memelihara jenggot dengan format Jabhat Nusra karena iseng dan merasa modis dengan itu.

Dengan bekal anggapan itu, saya beranikan diri menyapa sekaligus memberinya saran, “Mas… Kenapa memelihara jenggot begitu? Bukankah model begitu malah bikin orang merasa risih dan mengira anda seperti orang-orang yang dianggap ekstremis?”

Musik berganti lagu. ‘Back ton You’ yang meluncur dari bibir Selena Gomez mengalun menyela perbincangan kami.

“Oh, ini kan sunnah Nabi, pak,” celatuknya seraya mengelus mesra bulu-bulu panjang itu. Duuuaar! Jawaban itu seperti ledakan bom mobil. Saya kaget bukan karena tak sepakat bahwa mmelihara dan merapikan jenggot memang baik dan merupakan salah satu cara Nabi berpenampilan. Tapi, berdasarkan fakta umum merebaknya intoleransi di sebagian generasi muda, saya menduga pemuda penggemar musik Barat ini sedang mengalami proses transisi menjadi cingkranger relijius.

Pengemudi ini adalah satu dari jutaan pemuda yang telah, sedang dan akan dimangsa oleh agen-agen intoleransi dan penjaja khilafah yang telah menguasai sektor-sektor publik di negara yang mestinya berdiri di atas kebhinnekaan dan berasaskan Pancasila.

Pemerintah memang telah melakukan beberapa tindakan demi menghalau kelompok-kelompk ekstremis, tapi nampaknya pemahamanan tentang bibit ekstremisme dan intoleransi tidak komprehensif.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed