“NGABIB”

Kemarin saya dan beberapa teman menghadiri sebuah muktamar sebagai tamu undangan. Rombongan kami terdiri atas 4 habib bercelana dan 2 ustadz non habib.

Tamu undangan cukup banyak. Peserta muktamar dengan kartu pengenal sangat banyak. Penggembira lebih banyak. Acara dimulai dengan ceramah pembukaan Pak Jokowi lengkap dengan basmalah, hamdalah dan shalawat. Benar-benar “ngeyai.”

Di sebelah saya ada seorang berjubah dan bersorban dalam ukuran besar yang dipanggil Habib oleh orang-orang sekitarnya. Meski citra visualnya tak koheren dengan panggilan itu, saya berusaha fokus mendengarkan ceramah Pak Jokowi yang sempat “dikerjai” salah seorang yang menolak haidah sepeda setelah membuktikan hapal Pancasila. (Dia mengisyaratkan sepeda bermesin dengan menirukan deru gas).

[ads1]

 

Karena bersebelahan, teman saya yang dikenal habib tak mampu menahan kepo lalu bertanya “Antum dari kota mana, bib?” tanyanya usai bersalaman. “Maaf beb, saya bukan habeb” jawabnya sambil meringis gemanaa gituh. Rupanya pertanyaan teman saya yang habib uaseli itu bikin “habib” itu keder atau takut diusut nasabnya. Hampir saja saya njembrot ngakak. Ada-ada aja. Sebagian habib menyembunyikan kehabiban karena tak tahan dengan bebannya. “Habib” ini malah cari beban.

Fenomena “ngabib” alias mendadak habib atau mengaku keturunan Nabi bukanlah fenomena baru di tengah masyarakat relijius Indonesia yang dikenal cinta keluarga Nabi. Maklum, banyak yang menganggap semua keturunan Nabi sebagai Ahlulbait yang suci. Ada beberapa habib asli memanfaatkan itu demi tujuan negatif itu. Beberapa gelintir orang yang memang bukan habib tergiur dengan hak istimewa itu dan mengaku habib. Akibatnya, citra mulia di balik atribut ini tercoreng.

Terlepas dari ini semua, prilaku negatif dengan kedok nama Nabi dan Ahlulbait oknum habib asli atau habib palsu adalah perbuatan tercela.

News Feed