NODA DI KENING SEJARAH KITA

Dalam sepekan kita digegerkan serangkaian aksi kejahatan bernuansa intoleransi. Pendeta, ustadz dan biksu jadi sasaran pengianiayaan. Sebuah gereja di Yogyakarta juga diserang.

Kita sering dihibur oleh berita-berita tentang tingginya angka toleransi di Indonesia. Tapi nyatanya, banyak kasus kekerasan sektarian terhadap orang atau kelompok agama dan mazhab. Tragedi Sampang adalah noda di kening sejarah kita.

Nyatanya intoleransi makin subur, bukan pelosok, tapi di ibukota dan kota-kota besar.

Nyatanya, relijiusitas jumud menjamur, bukan di pesantren-pesantren, tapi di hampir seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta.

 

Nyatanya, memang ada ajakan permusuhan dan intoleransi yang dianggap ajaran agama.

Nyatanya, memang ada agamawan yang menyebarkan ajakan kebencian dan intoleransi sembari menganggap itu bagian dari pola beragama.

Nyatanya, memang ada yang menganggap agresi kepada agama lain sebagai harga mati dalam sikap beragama.

Nyatanya, memang ada yang menjadikan agresi kepada penganut agama lain sebagai cara membuktikan kecintaan kepada agama sendiri.

Nyatanya, himbauan kepada agamawan agar mengarahkan umatnya untuk toleran terhadap agama lain dan penganutnya tidak efektif.

 

Nyatanya, memang ada teks dalam literatur agama yang bisa ditafsirkan sebagai perintah benci dan agresi kepada keyakinan lain.

Nyatanya, ada pelaku agresi terhadap penganut agama lain yang tak menyesal karena meyakininya sebagai jihad dan nahi munkar.

Nyatanya, ada yang menjadikan intoleransi dan kebencian terhadap keyakinan lain sebagai modal politik.

Nyatanya, memang ada agamawan intoleran yang tidak ditegur, apalagi dikenai hukum pasal ujaran kebencian.

Nyatanya, memang ada agamawan intoleran yang diberi ruang luas di tengah publik.

Nyatanya, memang keluhan-keluhan dari kelompok korban intoleransi, ujaran kebencian dan kekerasan tak mendapatkan respon fair.

Nyatanya, memang ada yang bertugas menjaga kerukunan mengutamakan minimalisasi konflik ketimbang menindak penyebar ujaran benci.

Nyatanya, memang ada pengabaian kasus kekerasan terhadap kelompok karena tekanan pihak yang mengklaim sebagai kelompok besar.

Nyatanya, kekerasan terhadap kelompok agama lebih diperhatikan ketimbang tragedi kekerasan terhadap kelompok aliran dalam agama.

Nyatanya, memang anjuran toleransi ditujukan kepada para penganut agama-agama, bukan penganut aliran-aliran dalam setiap agama.

Nyatanya, sebagian agama di sini dipahami terdiri atas beberapa aliran, sedangkan salah satu agama dipandang hanya punya 1 aliran.

Nyatanya, setiap penganut aliran dalam salah 1 agama dipandang lebih dulu sebagai anggota aliran, baru kemudian sebagai warga.

Nyatanya, intoleransi yang ditausiahkan lebih ampuh menciptakan instabilitas politik ketimbang hoax soal ekonomi di sosmed.

Nyatanya, peristiwa demi peristiwa kekerasan berkedok keyakinan hanya numpang lewat di layar kaca, linimasa dan memori lalu lenyap.

Nyatanya, sebagian anggota kelompok yang jadi sasaran ujaran benci sibuk dengan isu-isu tak terkait nasib eksistensi kelompoknya.

Nyatanya, permohonan-permohonan audiensi dari kelompok yang kerap jadi sasaran kekerasan kurang dapat respon pihak otoritas.

Nyatanya, tawaran-tawaran silaturahmi dan dialog untuk klarifikasi tak mendapatkan respon positif dari para pegiat intoleransi.

Nyatanya, di negara berpancasila ini ada orang-orang berotoritas di daerah-daerah yang menjadi pelindung intoleransi.

 

Nyatanya, ajakan-ajakan jadi relawan penyebar toleransi tak dapat respon berarti dari para anggota kelompok yang jadi sasaran ujaran kebencian dan kekerasan atas nama agama dan mazhab.

Toleransi akan dipandang sebagai ambivalensi, hipokrisi dan kemurtadan dan intoleransi dianggap sebagai bukti kesalehan bila pemerintah dan silent majority tidak mengubah aksi reaktif dengan aksi preventif dengan penegakan hukum tanpa diskriminasi atas dasar kuantitas penganut.

Beragama dengan logika, bukan doktrin agamawan, adalah cara mempertahankan agama sendiri sembari mengakui hak beragama orang lain.

loading...