PERBEDAAN FUNGSI DAN POSISI DALAM STRUKTUR SOSIAL ANTARA LAKI DAN PEREMPUAN BUKAN KEUNGGULAN DERAJAT KEMANUSIAAN DAN KEHAMBAAN

Judul di atas bisa diubah “Jangan Penuhi Haknya bila tak Melaksanakan kewajibannya.’

Para pengusung feminisme mendorong kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan hak. Padahal sejak diciptakan hak laki dan perempuan memang sejajar menurut akal sehat dan agama yang rasional.

Karena itu kaum perempuan tak perlu menuntut hak kesetaraan kepada kaum laki. Justru menuntut kesetaraan hak kepada kaum laki berarti mengakui superioritas laki seolah kaum laki penentu setara atau tak setara. Hak disadari dan ditegakkan dan diterapkan dalam interaksi sosial, terutama dalam perkawinan, oleh kaum perempuan tanpa menanti persetujuan kaum laki.

Salah satu bukti kesetaraan hak (yang justru tidak dipahami oleh mayoritas perempuan) adalah bahwa laki punya hak untuk dinikahi dengan penerimaan atau respon (qabul), sedangkan kaum perempuan punya hak untuk menikahi dengan inisiasi (ijab). Sayangnya banyak yang memahaminya terbalik. Inilah yang menjadi fallasi massal yang justru memberikan kesan dominasi kepada laki.

Sebagai hubungan kemitraan, perkawinan dibangun di atas semua kontrak kesepahaman dan kesepakatan tentang kewajiban setiap pihak. Hak merupakan konsekuensi logis dari pelaksanaan kewajiban masing-masing. Bila salah satu pihak tak menunaikan kewajiban, haknya pun gugur secara otomatis. Suami tak berhak menuntut hak bila tak melaksanakan kewajiban yang telah disepakati dalam kontrak. Istri pun tak perlu menuntut hak bila tak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ditetapkan saat perjanjian dan kontrak kemitraan disahkan.

Secara ringkas yang perlu diperhatikan adalah poin-poin sebagai berikut:

1. Kesetaraan antara laiki dan perempuan dalam derajat kemanusiaan dan kehambaan di hadapan Allah adalah aksioma logis dan ketetapan agama.
2. Kesetaraan dalam kemanusiaan dan kehambaan antara laki dan perempuan tak meniscyaan kesejajaran hak dan posisi dalam struktur sosial.
3. Perbedaan dalam fungsi dan tugas dalam hierarki sosial adalah keniscayaan interaksi dan mutualisme yang menunjang keberlangsungan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
4.Perbedaan posisi dalam struktur sosial tidak meniscayakan perbedaan tingkat kemuliaan.
5. Karena struktur sosial terbentuk berdasarkan fungsi dan urgensi keberlangsungan, mestinya kesetaraan dengan laki dalam struktur sosial tidak dijadikan sebagai parameter kemuliaan dan kesempurnaan.
6. Kemuliaan dan kesempurnaan (keunggulan) dalam struktur sosial tidak ditentukan oleh posisi, tapi ditentukan oleh kinerja dan optimalisasi tugas dan fungsi.
7. Kemuliaan sebagai manusia dan hamba serta keunggulan eksistensial setiap individu (laki dan perempuan) tidak ditentukan oleh tinggi atau rendahnya posisi sosialnya tapi ditentukan oleh tingginya iman (dengan ketulusan dan ketakwaan sebagai pemuncaknya) yang diimplemtasikan dalam amal vertikal dan horisontal.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed