“POLITIK RASA AGAMA”

"POLITIK RASA AGAMA"
“POLITIK RASA AGAMA”. 2018 adalah tahun para politisi berebut kuasa. Ada yang mengandalkan popularitas temurun. Ada yang jual tampang. Ada yang pajang atribut agama

2018 adalah tahun para politisi berebut kuasa. Ada yang mengandalkan popularitas temurun. Ada yang jual tampang. Ada yang pajang atribut agama. Ada yang bagi-bagi uang. Ada pula yang mengedepankan retorika dan janji. Semuanya saling banting. Karena itu, ketegangan akan terus terjadi.

Dalam kecamuk politik yang riuh dengan isu-isu sensitif kita WAJIB menahan diri untuk tidak tergesa-gesa merespon apapun dengan pernyataan kontrproduktif.

Dalam kecamuk politik yang riuh dengan ragam peristiwa keamanan yang simpang siur kita WAJIB ikut menciptakan ketenangan dengan mendukung konstitusi.

[ads1]

 

Dalam kecamuk politik yang riuh dengan polemik dan polarisasi kita WAJIB mengutamakan keutuhan dengan tidak ikut menyebarkan isu-isu sensitif.

Dalam kecamuk politik yang riuh dengan aneka konflik kepentingan sebaiknya memikirkan hal-hal yang positif bagi bangsa, umat, komunitas dan keluarga.

Yang terlihat nyata bagi seseorang tak mesti nyata bagi orang lain. Kita mesti mentolerir pandangan orang lain karena data yang dipercaya berbeda-beda.

Agama dan mazhab bukanlah partai politik yang pandangan dan sikap politiknya berlaku bagi setiap anggota dan simpatisannya.

Pandangan dan sikap politik setiap orang didasarkan pada cara pandang dan data yang diterimanya, bukan agama dan mazhabnya.

Bila agama saja bisa dipahami secara berbeda dan kita harus toleran karena itu, mestinya kita toleran dalam pilihan pandangan dan sikap politk.

News Feed