PROFESI

Kemarin saat di kelas “Comparative Philosophy Islam – Western” saya merasa sedih dan malu karena harus membahas tema yang cukup berat bagi saya, yaitu Materialisme-Fisika Quantum dan Islamic Philosophy.

Kadang merasa seperti sesat juga.Tak terbayang oleh saya yang saat masih bocah tak pernah duduk di bangku kelas SD karena dipaketkan ke pesantren dan didik dengan ilmu-ilmu tradisional agama seperti Tajwid, Imla’. I’lal, Sharf, Nahwu dan sebagainya serta dipersiapkan untuk menjadi penyampai nasihat, anjuran dan janji pahala, tiba-tiba harus menghadapi fisika kuantum dengan nama-nama Barat, seabrek teori dan istilah yang sama sekali tak berkaitan dengan apa yang dulu dicangkok dalam memori segar saya.

Memahaminya saja tak mudah bagi wong ndeso dan santri katrok seperti saya, apalagi mengajarkannya, apa lagi lagi membandingkannya dengan Islam dan filsafat Islam. Yang pasti, relasinya dengan Imlak (ilmu dikte huruf Arab) sangat jauh.

Meski cukup familiar dengan beberapa pandangan Materialiame (metafisik, mekanik dan dialetik) dan sejumlah aliran filsafat Barat klasik, modern dan postmodern, saya kurang tertarik kepada materialisme yang dihubungkan dengan kosmologi Sains Newton, Einstein dan Hawkings karena tak punya wawasan yang cukup tentang ilmu alam dan fisika. Demi melaksanakan tugas, saya berusaha meredam kegeisahan dengan beragam modus dan cara dengan satu tujuan, “menyelamatkan profesi”.

Salah satunya adalah berterus terang mengaku tak punya cukup bekal tentang fisika kuantum. Kedua menjanjikan kepada para mahasiswa untuk mendatangkan orang yang punya keahlian dalam bidang fisika kuantum. Ketiga berapologi dengan menceritakan kisah hidup saya yang bisa berprofesi dosen meski bertahun-tahun dididik sebagai calon mubalig dan habib panggung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed