“RASISME RELIJIUS”

Sebuah clip video yang dikirim ke sebuah WAG menayangkan suatu acara yang memadukan agama dan budaya. Musik etnik relijius yang ditayangkan di dalamnya sangat menakjubkan. Yang tak kalah menarik dari itu adalah tausiyah di dalamnya yang kontennya mengandung penyadaran tentang kearifan lokal alias Islam Nusantara.

Islam adalah agama. Agama apapun tak pernah menjadi penjajah. Tak ada Islam penjajah. Islam hanyalah ajaran. Manusia mungkin melakukan penjajahan atas nama agama. Kita tak bisa memungkiri fakta sejarah yang menunjukkan bahwa dinasti Umawit dan Abbasit melakukan invasi dan aneksasi ke sejumlah wilayah di Timur Tengah dan Eropa. Tapi itu bukanlah representasi Islam. Islam menjadi alasan penjajahan

Setiap bangsa dan ras berhak bangga dengan kodrat dan identitasnya tanpa merendahkan bangsa dan ras lain. Itulah yang membedakan nasionalisme dengan chauvinisme dan fasisme.

Islam Nusantara bukan Islam versi nusantara karena Islam hanyalah Islam. Islam hanya punya satu versi, yaitu Islam Muhammad tanpa atribut waktu dan tempat tertentu bahkan mazhab. Islam Nusantara adalah Islam yang diimplementasikan dalam kultur khas masyarakat yang berada di nusantara.

Tak ada yang berhak mencemooh Arab, Persia, China dan lainnya hanya karena menerima Islam dengan kultur Jawa atau Nusantara. Mencemmooh satu ras berarti memasukkan setia manusia dari ras itu dalam cemooh.

Islam ala Arab adalah Islam yang diterima sesuai dengan kultur Arab. Islam ala Nusantara atau ala Indonesia adalah Islam yang diterima sesuai dengan budaya dan karakter Indonesia. Tidak ada yang salah dengan itu.

Dengan kata lain, menolak “Islam Arab”-nya bangsa-bangsa Arab berarti menolak “Islam Nusantara”-nya bangsa-bangsa di Nusantara.

And last but not least, pandangan rasional ini berlaku rata dan universal. Menolak zionisme dan Israel, misalnya, tak berarti menolak apalagi merendahkan ras dan agama Yahudi. Bila toleran terhadap ras Yahudi, mestinya toleran terhadap ras Arab, Persia dan lainnya.

News Feed