“RELASI KUASA” DI BALIK INDUSTRI KEPANIKAN

Dunia sedang dilanda kecemasan akibat situasi Outbreak. Kegelisahan dan kecemasan meliburkan nalar kolektif.

Kapitalisme menciptakan pasar kecemasan medikal. Manusia-manusia resah yang gamang dan meratapi kodratnya, mencemaskan masa depannya bahkan detik-detik ke depan setiap hari, merawat bayangan stroke dan serangan jantung akibat diabetes, hipertensi dan kolesterol, menyesali identitasnya, malu dengan dirinya, menerima tanpa sadar proses evolusinya, membiarkan benaknya menjadi kranjang aneka produk kesehatan yang muncul silih berganti dengan formulasi-formulasi yang lebih sempurna dan janji-janji keajaiban.

Terciptalah pasar luas yang membentang dari Asia hingga Afrika. Ribuan laboratorium medis dan rumah sakit berkecambah untuk menyambut virus yang terus mengupgrade atau dikembangkan. Ebola, Antrax, SARS dan kini Corona membuat manusia-manusia yang dicekam ketakutan salng menghindar dan mencurigai. Tak hanya itu, masker pun menjadi emas, diperebutkan, ditimbun, dipalsukan dan dijual dengan harga tak masuk akal.

Tentu menghilangkan kegelisahan memerlukan biaya besar yang hanya bisa diperoleh dengan menempuh segala cara. Arena kompetisi terbuka. Kecemasan terus diproduksi berbarengan penawarnya. Virus diciptakan dengan anti virusnya.

Berbeda dengan teori-teori kekuasan Hobbes dan Nietzche yang memposisikan kuasa sebagai sebuah entitas objektif, Michele Foucault, beranggapan bahwa kekuasaan bukanlah milik subjek tertentu melainkan ada dalam diri setiap orang sebagai strategi, sehingga akhirnya kekuasaan itu ada di mana-mana.

Terlepas dari subjektivitas dan objektivitas kekuasasn, yang pasti kepanikan adalah pasar tak berbatas ciptaan “Relasi Kuasa” yang menggerakkan manusia-manusia panik untuk berpikir dan bertindak bukan karena menyukainya atau meyakininya sebagai sebuah pilihan.

“Relasi Kuasa” mendoktrin rakyatnya di planet ini menerima apapun yang diputuskan tentang standar kesehatan, kebugaran, kecantikan, kesuksesan, dan semuanya.

Manusia-manusia yang tak lagi punya kendali terhadap makna mengira memenuhi kebutuhan, padahal kecenderungan dan konsepnya tentang “kebutuhan” adalah produk doktrin sebuah rezim invisible “Relasi Kuasa”.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed