SABAR DAN MIRIP SABAR

Sabar tak sama dengan malas, berbeda dengan pesimisme dan bukan takut.

Takut adalah situasi mental intelektual yang timbul karena salah satu dari dua faktorr, yaitu pengetahuan dan kebodohan.

Dengan kata lain, berdasarkan sebabnya, takut terbagi dua:: A) Takut positif, yaitu yang muncul karena pengetahuan tentang rasa butuhnya kepada sesuatu yang dicintainya; B) Takut negatif, yaitu yang timbul
karena tiadanya pengetahuan yang benar dan pasti (kebodohan) tentang kemugkinan-kemungkinan negatif persitiwa-peristiwa yang tak diketahui.

Takut negatif diekspresikan dalam kecemasan, kebingungan, kekalutan dan sejenisnya) adalah buah kebodohan. Inilah takut yang memproduksi pesimisme, frustrasi dan segala instabilitas jiwa atau pasivitas.

Pesimisme adalah keputusan menghentikan gerak dengan memilih satu kemungkinan negatif di antara kemungkinan-kemungkinan positif yang tak diketahuinya atau dikiranya sebagai lebih negatif dari kemungkinan negatif yang telah dipilihnya.

Putus asa adalah keputusan menghentikan gerak dengan memilih salah satu kemungkinan dari semua kemungkinan yang dianggapnya negatif.

Malas adalah keputusan menghentikan gerak untuk memilih salah satu dari kemungkinan kemungkinan meski tak tahu tak semuanya sebagai negatf.

Sabar adalah keputusan untuk bergerak dengan mengambil dan memikul beban psikologis sesuatu yang menyakitkan atau menyulitkan saat yakin tak mampu menghindarinya, bukan karena menolak menerima risiko namun karena berharap kemuliaan sebagai gantinya.

Berikut beberapa syarat bersabar
1. Sabar hanya boleh dilakukan terhadap sesuatu yang bukan akibat perbuatan sendiri. Orang yang tertimpa akibat buruk sebuah perbuatan buruk tak layak dapat pahala kesabaran.
2. Sabar hanya boleh dilakukan tanpa tendensi kepentingan material atau pengaruh mutual seperti takut, rasa lemah dan lainnya. Ia harus didasarkan pada ketulusan dan demi meraih kemuliaan.
3. Sabar hanya boleh dilakukan terhadap sesuatu yang tak bisa dihindari karena proses kausalitas.
4. Sabar adalah ibadah dan kemuliaan bila didasarkan pada tujuan kepatuhan dan penempaan jiwa demi purifikasi jiwa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed