loading...
SARKASME IRONI
SARKASME IRONI. Setiap orang perlu memaafkan dirinya dan menerima yang terjadi dengan cita, cinta, dusta dan nistanya, dan tak menutupinya dengan ilusi

SARKASME IRONI

Tulisan muram “Tragedi Nikah” memang tak menghibur karena ia adalah narasi sarkastik tentang fakta ironik yang dihadirkan sebagai potret “karena” (yang umum terjadi), bukan citra “demi” (yang umum diidamkan).

Ia ditulis sebagai penyeimbang antara histeria dan euforia, antara realitas compang camping dan fantasi muluk-muluk dan sebagai alarm kewaspadaan bernalar dan optimisme realistis.

 

Agar tetap logis dan optimis juga realistis merajut episode-episode hidup, perlu mencubit diri (yang lebih menyukai “mimpi” ketimbang realitas) dengan narasi tajam yang tak memanjakan hati dengan ilusi tentang ironi yang berserak depan mata.

Setiap orang perlu memaafkan dirinya dan menerima yang terjadi dengan cita, cinta, dusta dan nistanya, dan tak menutupinya dengan ilusi. Metafora adalah fatamorgana yang terlihat bak laguna asri yang bergoyang lirih di kelopak mata pendahaga puji dan puja.

Inilah arena dialektika. Melawan gravitasi dengan gerak substansi berbekal kesadaran dalam rute perfeski adalah cara mensyukuri karunia akal. Tetaplah semangat!

loading...