SETIAP MANUSIA ADALAH BURUH

 
Masyarakat hari-hari ini berpolemik seputar buruh terkait undang-undang cipta kerja yang kontroversial dan mengundang gelombang aksi di seantero negeri. Banyak orang yang menentangnya karena merasa wajib membela kaum buruh. Yang menerima juga menganggapnya tidak menzalimi kaum buruh. Alhasil, kata buruh jadi primadona.
 
Diksi dan frasa memuat pengertian. Opini dan mindset mempengaruhi esensi pengertian. Sikap, pandangan dan perlakuan dipengaruhi oleh pengertian yang terkandung dalam frasa. Karena itu, pemilihan kata sangatlah penting.
 
Bedakah makna buruh dengan makna karyawan dan pegawai? Kalau pun berbeda karena keterikatan dengan jenis pekerjaan, kompetensi dan imbalan berupa upah atau gaji atau honor, yang pasti, semuanya adalah pekerja atau tenaga kerja.
 
Mungkin kata “pekerja” (worker dalam bahasa Inggris atau عامل dalam bahasa Arab) lebih enak terdengar tenimbang kata “buruh” yang dalam bahasa Jawa biasanya bersinonim dengan “babu” atau suruhan. Buruh diidentikkan pada pekerjaan kasar, dianggap tak memiliki nilai tawar yang sama dengan karyawan sebagai pekerja terampil dan terlatih. Sedangkan pengertian pekerja mencakup orang yang bekerja di bawah orang lain dan bekerja sendiri.
 
Karena pekerjaan (perbuatan, tindakan, aksi) mencakup setiap gerak, maka setiap yang bergerak adalah pekerja. Karena manusia adalah entitas yang bergerak, maka setiap manusia adalah pekerja.
 
Karena pekerjaan mengandung makna umum setiap perbuatan, maka ia mencakup semua aktivitas fisikal dan non fisikal (intelektual dan spiritual) seperti merenung dan kontemplasi. Berdasarkan makna universal ini, tak ada manusia yang menganggur atau pengangguran.
 
Karena buruh, karyawan, direktur, manajer dan sebagainya adalah pekerja, maka setiap manusia, apapun profesi dan posisinya, adalah buruh.
Pada dasarnya, secara eksistensial pekerjaan atau perbuatan hanya bermakna afirmatif yang merupakan proses menyempurna (perfeksi, takamul) menurut prinsip transubstansi. Namun secara esensial, pekerjaan dan perbuatan berlaku bagi afirmatif dan negatif. Allah berfirman
 
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa mengerjakan keburiukan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Az-Zalzalah : 7 & 8).
 
Kita semua harus bekerja berdasarkan norma kebenaran dan kebaikan. “Dan katakanlah (hai Muhammad) “bekerjalah, niscaya Allah akan melihat pekerjaan kalian”. (QS. At-Taubah : 105).
 
Dan setiap pekerjaan akan memproduksi sesuatu yang akan dialaminya. “Setiap orang yang bekerja niscaya mempunyai stratanya sendiri.” (QS. Al-An’am : 131).
 
Sorga dan neraka adalah laba pekerjaannya. Tak perlu sibuk mengutip pernyataan Karl Marx, Friedrich Engels, Lev Trotski dan lainnya untuk memahami ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed