SETIAP MUKMIN PASTILAH KAFIR

Yang jadi biang intoleransi, ekstremisme, radikalisme dan terorisme bukanlah kata “kafir” yang sudah baku sebagai frasa agama, tapi pembatasan makna kafir sebagai “harbi” semata dan doktrin kebencian serta anjuran memusuhi siapapun yang berbeda keyakinan berupa agama dan aliran yang sejak berabad-abad telah disatupaketkan dengan kata tersebut.

Doktrin “memerangi” yang diadonkan dengan kata kafir sebagai akibat pembatasan makna “harbi” telah terbentuk dari a) pemahaman dangkal terhadap teks agama, b) pensahihan secara general semua teks riwayat dalam kitab-kitab hadis tertentu tanpa pengecualian, c) kebencian yang diwariskan dari konflik-konflik sektarian berkepanjangan yang diciptakan para tiran demi mempertahankan status quo. Memang, memerlukan sikap legawa untuk melakukan autokritik demikian.

Meski bertujuan positif, menghapus, mencabut atau menganulir penyebutan sebuah kata takkan bisa mengganti atau mereduksi makna signifikannya.

Secara aksiomatik, menerima, membenarkan atau mengkonfirmasi sebuah teori atau pandangan berarti menolak (mengkafiri) teori pandangan yang berlainan dengannya meski tak menegaskannya secara verbal dan aktual. Artinya, secara epistemologis, mu’min (berakar dari iman) adalah kata netral yang berarti mempercayai dan meyakini alias menerimanya sebagai sesuatu yang benar, sedangkan kafir (berasal dari kufr) adalah kata netral yang berarti tidak mempercayai alias menolaknya sebagai sesuatu yang benar.

Setiap orang yang berbeda keyakinan pasti secars logis mengimani hal-hal yang sebagian tak diimani oleh selain dirinya yang berbeda keyakinan. Tak mengimani diafirmasikan dengan mengimani apa yang tak diimani oleh yang berbeda keyakinan dengannya. Mengimani dinegasikan dengan menolak yang diimani oleh yang tak sekeyakinan.

Objek-objek iman dan kufur dalam bidang metafisika bisa disebut ketuhanan, agama, mazhab dan pandangan-pandangan turunannya. Penganut sebuah agama pastilah pen-kufur- agama lain.

Singkatnya, tak ada yang perlu dihebohkan dari kata kafir. Yang perlu dilakukan adalah edukasi umat tentang toleransi dengan memahamkan titik temu iman dalam agama-agama dan aliran-aliran.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed