SIAP TANPA TAPI

Negara dan bangsa ini sedang dikepung agen-agen intoleransi. Ada banyak jenis intoleransi, intioleransi langsung dan intoleransi tak langsung. Intoleransi langsung adalah intoleransi yang menyasar kelompok tertentu dengan kedok agama dan mazhab. Intoleransi tak langsung adalah intoleransi yang bersembunyi di balik kubu politik tanpa menyasar kelompok tertentu secara spesifik.

Keduanya harus dilawan, tapi yang paling penting diantisipasi adalah intoleransi langsung karena berpotensi menimbulkan gangguan sosial dan keamanan melalui aksi massa terhadap minoritas. Bukan rahasia lagi, aparat keamanan sulit untuk bersikap adil bila itu terjadi.

Melaporkan setiap tulisan, video atau acara yang berisi ujaran kebencian kepada institusi hukum dan keamanan adalah langkah konstitusional yang perlu dilakukan demi menjaga kebhinekaan, apalagi bila merasa bagian dari komunitas itu.

Akan lebih baik bila terbentuk semacam kader-kader pemuda yang peduli sebagai agen-agen toleransi yang berbagi tugas dalam perlawanan terhadap ujaran kebencian terhadap kelompok keyakinan dan kesukuan. Bukan darah apalagi nyawa yang diperlukan, tapi hanya sedikit receh, pulsa dan waktu. Syaratnya hanya satu: ‘tak alergi risiko’.

Berpolemik dan menunjukkan sikap mendukung atau menentang dalam histeria pengkubuan adalah sesuatu yang tak melulu negatif karena mengutarakan pendapat politik adalah hak konstitusional. Selain itu, memperkuat kubu pilihan adalah kenikmatan psikologis karena setiap orang bisa memompa dan menyalurkan adrenaline. Tapi akan lebih baik bila sasarannya adalah pihak-pihak intoleran yang secara konsisten dan masif menyebarkan ujaran kebencian.

Yang mengganggu komunitas tertentu dengan pengkafiran dan penyesatan bahkan seruan pembantaian secara masif online dan offline lebih perlu disikapi serempak ketimbang menghabiskan pulsa dan paket internet dalam polemik politik dan polarisasi capres-cawapres.

Terhadap ujaran kebencian kepada kelompok minoritas agama, masyarakat sosmed, media, LSM dan Pemerintah turun tangan. Kalau sasarannya minoritas aliran? Tak perlu menanti semua orang melakukan tugas kebangsaannya. Tak perlu menuntut ormas yang belum tentu diterima oleh banyak orang. Anda bagaimana?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed