SIAPA AHLULKITAB?

Dalam al-Quran umat Yahudi, Nasrani dan Sabi’ah disebut Ahlukitab. Namun penyebutan itu tidak niscaya membatasi cakupan definisi Ahlulkitab.

Tidak seperti Yahudi dan Nasrani yang sudah dikrenal karena pengikurnya banyak, Shabi’ah juga dicantumkan dalam al-Quran sebagai Ahlulkitab.

Shabi’ah adalah sebuah kelompok etnis dan agama yang hidup berdampingan secara damai dengan penduduk lainnya di tepian Sungai Tigris dan Eufrat, Irak tengah dan selatan, dan Sungai Karun di Iran barat.

Mereka mengaku sebagai penganut agama samawi tertua di bumi, dan mengimani kitab-kitab suci yang berisi ajaran Adam dan Shit, Idris dan Nuh.

Shabi’ah berpandangan bahwa Allah yang agung berasal dari dirinya sendiri, dengan perintahnya, dan oleh firman-Nya. Semua makhluk dan malaikat yang memuliakan dan memujiNya berada dalan cahaya, serta perintahnya dan bahwa Adam dan Hawa diciptakan dari tanah liat.

Agama Sab’ah berkeyakinan bahwa Tuhan telah memerintahkan Adam untuk mengajarkan agama ini kepada keturunannya untuk menyebarkannya setelah dia.

Secara logis tak ada batasan nama bagi penyandang sebutan Ahlulkitab. Siapapun, individu dan kelompok yang beriman kepada Allah, mengimani adanya utusanNya dan mengimani kitab suci yang dibawanya sebagai kumpulan ajaran Tuhan bisa disebut Ahlulkitab.

Karena itu, kelompok-kelompok agama selain yang tertera dalam al-Quran, bila terbukti mengimani keesaan Tuhan Pencipta, mengimani kerasulan dan kitab suci yang dibawanya, bisa dianggap sebagai Ahlulkitab.

Kaum zorosterian, penganut agama kuno Iran yang kini menjadi minoritas dan mendapatkan perlindungan konstitusional atas hak sipil sosial dan politiknya di Iran, mengaku sebagai pengiman monoteisme, kerasulan dan kitab suci.

Sebenarnya bila definisi Ahlulkitab memuat tiga elemen keyakinan utama, maka umat Muslim bisa dianggap Ahlulkitab. Dengan kata lain, ada dua kelompok Ahlulkitab, Muslim alias penganut agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan non Muslim alias penganut agama-agama pengiman kitab selain Islam.

Karena itu, sebutan non Muslim mencakup siapapun yang tak menganut agama Islam, Ahlulkitab dan non Ahlulkitab.

Atas dasar itu, non Ahlulkitab dan orang yang menolak keesaan Pencipta yang disebut Musyirik bisa disebut kafir (secara teologis). Kendati bisa disebut kafir, haknya sebagai manusia, sebagai warga negara tetap terjaga kecuali yang melakukan agresi dan perusakan, yang dikategorikan sebagai kafir harbi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed