Syiah dan Tradisi Nusantara

Orang Syiah mengadakan midodareni? Tak perlu heran. Mestinya memang tak perlu andai masyarakat terutama Pemerintah dan media mainstream memberi kesempatan kepada komunitas yang selalu dizalimi ini menggunakan hak jawab dan hak memperkenalkan hakikatnya.
 
Tragis, mazhab ini dan komunitas penganutnya dibenci oleh kaum puritan intoleran, disalahpahami oleh sebagian kaum santri dan kaum abangan nasionalis juga diabaikan pemerintah. Kasus penganiayaan dan penyerangan oleh kelompok ekstremis di Solo beberapa lalu membuka mata kepala dan mata hati banyak orang.
 
Berdasarkan data mutakhir, di antara negara-negara Muslim di dunia, Indonesia dihuni sekitar 200 juta Muslim atau 80 persen dari total penduduknya (yang menurut data statistik 2013 mencapai 250-an juta jiwa). Kondisi ini menjadikan negara yang terletak di lintasan katulistiwa itu sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia.
 
Fakta dan istilah “mayoritas Muslim” di Indonesia nyaris identik dengan “mayoritas mazhab Ahlussunnah”. Artinya, mazhab keislaman ortodoks dan dominan di sini adalah Ahlussunnah.
 
Akibatnya, dalam konteks kemazhaban, Syiah bukan hanya dipandang sebagai minoritas, namun juga diperlakukan sebagai “anak kemarin sore” di kancah keislaman tanah air.
 
Padahal, menurut beberapa literatur klasik kesejarahan lokal, aliran keislaman yang pertama kali masuk atau membawa masuk Islam ke Nusantara (jauh belum terbentuknya negara modern bernama Indonesia) justru adalah Syiah.
 
Sejarahwan A. Hasjmy, misalnya, menuliskan dalam bukunya, Syiah dan Ahlussunnah Saling Berebut Pengaruh di Nusantara (Bina Imu, Surabaya, 1984), “Pada tahun 800, sebuah kapal dagang berlabuh di Bandar Perlak (wilayah DI Aceh sekarang). ‘Armada dakwah’ itu berisikan saudagar-saudagar Muslim Arab Quraisy, Persia, dan India, yang dipimpin oleh nahkoda Khalifah. Mereka membarter kain, minyak atar, dan perhiasan dengan rempah-rempah.” (Lih. Majalah Historia, no. 6, tahun I, 2012).
 
Seluruh rombongan misi Islam itu, lanjut A. Hasjmy, adalah orang-orang Syiah. Karenanya ia berkesimpulan bahwa mazhab keislaman yang pertama kali tersebar di Nusantara adalah Syiah, dengan Kerajaan Perlak sebagai tonggak pertamanya.
 
Sejarahwan lain, Dr. Slamet Muljana, menuliskan dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara (LKIS, Yogyakarta, 2005, hal. 155), “… aliran agama Islam yang sampai di Asia Tenggara paling dahulu ialah aliran Syi’ah. Aliran Syiah dibawa oleh para pedagang Gujarat (wilayah India sekarang), Persi, dan Arab pada permulaan abad ke-12 ke pantai timur Sumatra, terutama ke negara Perlak dan negara Pasai, dan mendapat dukungan dinasti Fathimiah di Mesir.”
 
Pernyataan ini diperkuat oleh sejarahwan negeri jiran, S. Q. Fatimi (yang juga dikonfirmasi sejarahwan Malaysia lainnya, Wan Hussein Azmi) tentang kedatangan Islam di Asia Tenggara. Dalam bukunya, Islam Comes to Malaysia (Singapore, Malaysian Sociological Research Institute, 1963), ia menceritakan adanya sebuah monumen yang ditemukan di Champa, Vietnam, yang terdiri dari batu nisan yang dibuat tahun 1039 serta sebuah tiang batu dengan aksara Arab bertarikh 1025-1035 Masehi.
 
Menurut Fatimi, M.P. Ravaisse yang menyelidiki tulisan tersebut mengatakan bahwa tampaknya isi dokumen ini menunjukkan bahwa di tempatnya ditemukan, sejak abad XI terdapat sebuah masyarakat kota. Mereka lain dari penduduk asli. Paham keagamaan dan adat istiadatnya juga berbeda. Kakek moyang mereka mestinya tiba satu abad sebelumnya. Kemudia, Fatimi menegaskan bahwa mereka adalah orang Arab Syiah.
 
Adapun sejarahwan terkenal, Prof. Dr. Aboebakar Atjeh dalam bukunya, Syi’ah di Nusantara (Islamic Research Institute, Jakarta, 1977), menulis, “Sekali-sekali bukanlah golongan salaf yang mula pertama masuk ke Indonesia menyiarkan agama Islam, boleh jadi juga golongan salaf, tetapi salaf Syiah, yang kebanyakannya dikejar-kejar oleh Bani Abbas di Timur atau Bani Umayah di Barat, lalu mereka lari ke Asia dan menyebarkan agama Islam disini.”
 
Lebih jauh, Prof. Aboebakar menyebutkan, “Keterangan yang lebih tua mengenai kedatangan mubaligh dari Persia dan India ke Nusantara, dapat kita baca dalam penyelidikan, yang dilakukan oleh dua ahli sejarah, yaitu Sayyid Moestafa At-Thabathaba’i dan Sayyid Dhiya’ Shahab yang terjadi sekitar bulan November 1960, berjudul ‘Hubungan Kebudajaan Indonesia-Iran’ (Haulal ‘Alaqatith Thaqafiyah Baina Iran wa Indonesia), yang diterbitkan dalam tahun 1339 oleh The Iranian Cultural Office Jalan Budi Kemuliaan 4 A Jakarta, Indonesia.”
 
“Diantara lain ia berkata, ‘Dekat Surabaya terdapat sebuah kota Gresik namanya, sebuah kota yang bersejarah di Jawa Timur. Di kota itu kami lihat bekasbekas yang sudah tidak terurus dan kuburan lama dari penyebar penyebar Islam dan Alim Ulama, diantaranya kuburan Maulana Malik Ibrahim, yang wafat dalam th. 822 H atau 1419 M. Beliau adalah boleh jadi seorang Iran asal dari Kashan.’”
 
Demikianlah beberapa kesaksian sejarahwan yang, meski dipertanyakan kesahihan dan sumber-sumbernya oleh sejumlah sejarahwan kontemporer seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra (lih. Kata pengantar, Syiah dan Politik di Indonesia (Zainuddin, A. Rahman, dkk., PPW-LIPI & Mizan, Jakarta, 2000), membuka ruang bagi dilakukannya penelitian lebih luas, mendalam, dan komprehensif ihwal kehadiran Islam Syiah di Nusantara.
 
Selain kesaksian literer di atas, keberadaan Syiah dalam bentangan sejarah di Nusantara juga diindikasikan oleh sejumlah artefak budaya dan tradisi keislaman yang masih dipraktikkan sampai hari ini. Di antara artefak bersejarah yang mengindikasikan kehadiran orang Syiah di Nusantara pada abad 10 Masehi adalah sebuah makam di Gresik, Jawa Timur, atas nama Fathimah binti Maimun (nama “Fathimah” pada masa itu temasuk nama yang tabu dan terlarang untuk digunakan karena kebencian penguasa Arab terhadap segala hal yang berbau keturunan Nabi saw).
 
Adapun berkenaan dengan tradisi bercorak Syiah adalah, seimisal, tradisi arak-arakan yang disebut “Hayok Tabui” di Pariaman, Sumatera Barat, pada setiap bulan Muharram, sebagai peringatan atas kesyahidan cucu Nabi saw, Imam Husain as di Karbala pada hari Asyura 61 H. Dengan begitu, tradisi ini khas bercorak Syiah. Tradisi yang hampir mirip juga terdapat di Ternate.
 
Di Jawa (Tengah dan Timur), terdapat tradisi “Grebeg Suro” yang kental dipengaruhi Syiah dan masih dipraktikkan sampai hari ini. Menurut tradisi ini, bulan Muharram dianggap sebagai bulan nahas dengan dasar bahwa di bulan ini, cucu Nabi saw yang bernama “Kasan” (Hasan) dan “Kusen” (Husain) dibunuh kaum yang zalim. Karena itu, orang-orang Jawa berpantang mengadakan perayaan pernikahan atau membangu rumah di bulan “Suro” atau Muharram.
 
Di Jawa Barat, dikenal pula tradisi yang dipraktikkan pada bulan Muharram, yaitu membuat dan mengonsumsi bubur “beureum-bodas” (merah-putih) yang diistilahkan dengan “bubur suro”. Konon, “beureum” merupakan perambang “darah kesyahidan Imam Husain” dan “bodas” menjadi simbol “kesucian” pribadi Imam Husain.
 
Rangkaian pengaruh tradisional Syiah juga merambah wilayah keagamaan di Nusantara, seperti Marhaban, Shalawat Diba’, tahlilan, haul, dan kenduri (yang secara istilah sekalipun berasal dari bahasa Parsi, “kanduri”, atau tradisi perjamuan untuk memperingati kelahiran putri baginda Rasul saw, Sayyidah Fathimah al-Zahra).
 
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed