“TAK ADA HADISNYA”

Di musalla sebuah bandara para calon penumpang melaksanakan shalat berjamaah yang diimami oleh salah seorang yang terlihat lebih relijius karena ada satu bundar legan di dahinya dan berjenggot serta berpenampilan ala taliban dengan syalwar. Usai shalat, sebagian beranjak karena mau terbang dan sebagian melantunkan zikir. Tiba-tiba pria setengah baya berjenggot itu teriak “Tak perlu zikir berjamaah karena tak ada hadisnya.’ Alasannya, tak ada hadis yang memerintahkan dan memperbolehkan, maka perbuatan itu adalah bid’ah.

Bagi umat yang telah terbiasa dimanjakan dengan doktrin, pernyataan aksiomatis tetaplah tak bisa diterima karena tak disertai dengan teks yang kerap disebut secara serampangan “dalil” berupa ayat atau hadis. Padahal sebuah teks bisa dipastikan sebagai dalil valid bila lebih dulu disandarkan pada aksioma logis. Akibat mindset yang tertanam secara temurun tersebur, banyak orang, meremehkan presentasi atau tulisan yang tak ditaburi teks-teks ayat dan hadis.

Tak semua teks yang berisi “Nabi bersabda…” dipastikan sebagai ucapan Nabi. Tak semua teks yang mencantumkan nama kitab dipastikan sebagai hadis Nabi. Hadis yang dianggap sahih oleh sebuah kelompok adalah sahih menurut standar periwayatannya dan tidak mesti berlaku bagi kelompok lain.

Sebuah perbuatan dianggap islami bukan karena ditemukan teks ayat atau hadis yang menganjurkannya atau memperbolehkannya atau riwayat yang melaporkan bahwa perbuatan itu pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Perbuatan islami adalah perbuatan yang sesuai dengan hukum Islam dan yang tidak bertentangan dengan syariah dan akhlak meski tak ada teks ayat atau hadis sebagai dalilnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed