THE SANTRI DAN AS-STUDENT

Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan kayu rada kumuh, menurut standar pola hidup moderen.

Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem ‘muratan’, yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris ‘feminin’. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan menghormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi agamawan terpandang di kampungnya.

Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia pun mengalami mutasi intelektual dari tradisional ke modern. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota atau kota besar dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghadiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang kontekstual dan kritis.

Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, lembaga pendidikan dan penelitian menampungnya. Media-media pun memasarkan pandangan-pandangannya. Akunnya jadi kiblat banyak santri yang “ngampus”.

Dia adalah anak muda yang cukup cerdas, pinter ngaji juga paham nahwu dan kitab kuning tapi terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar main stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius karena membenci eksklusivisme. Inilah mungkin sosok The Santri.

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung ‘kejawen’ di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya abangan yang konon pernah menjadi simpatisan pekai, tidak pernah menyuruhnya shalat apalagi mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.

Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus jalur undangan dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti opspek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini.

Usai mengikuti opspek, ia ‘dibina’ dan terus ‘digarap’ dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup.

Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur’an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat ‘tegas’ soal jihad, penegakan ‘hukum Allah’, dan amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa’id Hawwa, juga kitab-klitab fikih ‘kaku’ karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz.

Karena cerdas dan rajin, dia diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhood¬nya dengan aktif dalam jaringan ‘Islam literal’ dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya.

Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan sangat membenci Barat. Cara berbusana juga khas dan “ngustadz”. Ia menjadi salah satu pakar dalam sebuah institusi dan dosen di almamaternya. Pakar salah satu bidang sains ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café. Mungkin inilah profil As-Student.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed