TOLERANSI PALSU

Toleran terhadap agama lain belum tentu toleran terhadap seagama tapi beda mazhab. Itulah toleransi palsu.

Toleransi palsu terlihat jelas dalam pembiaran aksi persekusi dan pembubaran acara haul Maha Habib Husain cucu Nabi. Ironisnya, sudah tak membela, malah cenderung menyalahkan korban, dan tak jarang mengaku-ngaku sering membela kelompok yang menjadi sasaran persekusi.

Bila benar-benar toleran, pastilah melakukan pembelaan dan mengecam aksi yang bertentangan kebhinnekaan, bahkan melakukan pengamanan dan antisipasi tanpa diminta sebelum terjadi.

Lebih tragis lagi, komunitas-komunitas yang berjumlah kecil biasanya diremehkan dan justru dutuduh oleh kelompok toleran palsu sebagai penyebabnya atau pemancing aksi kekerasan seperti terjadi di Sampang. Ironis.

Itulah fakta ironis yang mungkin diketahui banyak orang tapi sedikit yang mau mengungkapnya. Tanpa dikaitkan dengan pilihan pilitik masing-masing, harus diakui bahwa intoleransi dan diskriminasi makin subur di sini.

Karena itu, kelompok minoritas apapun harus melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi internal secara individual dan institusional demi menegaskan kehadiran sebagai bagian integral bangsa dan negara melalui peningkatan kontribusi dalam semua sektor dan pemupukan tunas-tunas berkualitas.

Hal kedua yang patut dilakukan adalah membangun komunikasi kontruktif dengan Pemerintah, ormas-ormas yang benar-benar toleran, komunitas-komunitas minoritas apapun, semua LSM yang peduli toleransi dan kemanusiaan, bahkan parpol yang imun dari ekstremisme berkedok agama alias nasionalis bahkan sekular.

Mungkin perlu fokus terhadap agenda-agenda urgent diatas dan tak perlu lagi meladeni provokasi-provokasi sporadis via sosmed dari akun-akun tak jelas dengan bungkus dialog dan polemik seputar ajaran-ajaran karena sudah banyak penjelasan dan klarifikasi serta bantahan berupa puluhan buku dan ribuan artikel.

Dalam komunitas yang terus diganggu oleh para agen takfirisme, polemik-polemik politik dalam polarisasi pilpres juga perlu dikurangi demi konsederasi pengaruh signifikannya terhadap eksistensi sosialnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed