WESTERN TOUCH

Sepulang dari Iran pada tahun 1988 saya mengabdi sebagai guru di YAPI Bangil, almamater saya yang saat itu merupakan lembaga pendidikan tradisional murni atas permintaan YM Ustadz Husin Alhabsyi, pendirinya.

Selama 10 tahun saya merasa beruntung karena ikut berperan dalam transformasi YAPI dalam semua babaknya mulai dari pernbakan sistem pengajaran hingga pendirian SMA YAPI.

Sepeninggal Ayahanda Ustadz Husin Al-Habsyi, saya yang masih muda terdorong untuk mengembangkan potensi diri dan perluasan pengalaman di luar lingkungan pesantren yang telah rasakan selama 10 tahun sebagai pengajar.

Haidar yang biasa saya panggil Bang Haidar adalah satu dari sedikit orang yang selalu mendorong saya untik banting setir dari seorang santri tulen alias agamawan tradisional ke santri aktivis plus akademisi. “Kamu perlu dapat western touch,” adalah kalimat Bang HB yang mengiang-iang dalam benak saya. Saya yang masih “culun” saat itu belum memahami sepenuhnya alasan di balik kalimat itu.

Pada 1999 karena sejumlah alasan saya memutuskan untuk mengucapkan “sayonara” sembari memberikan kesempatan kepada para yunior untuk melanjutkan tugas mengelola dan mengabdi di pesantren plus SMA yang selalu menjadi sasaran gangguan para jelata takfiri itu.

Saya kembali ke Iran untuk menyelesaikan sisa studi selama kira-kira 1 tahun. Pada tahun 2000 saya kembali ke Tanah Air dan membawa pulang daftar nilai ujian seluruh mata kuliah di Qom.

Mulai 2001 hingga 2002 saya menetap di Malang menemani ibu yang juga meninggalkan Bangil menyertai putri dan menantunya yang sempat memimpin YAPI selama beberapa tahun dan merintis pendirian sekolah terpadu mulai TK lalu SD kemudian SMP dan kini bersiap membuka SMA di sana. Selama di Malang saya melakukan beragam kegiatan intelektual, antara lain menulis buku dan memberikan presentasi di kelompok-kelompok kajian mahasiswa dan pelatihan kader HMI di beberapa komisariat di beberapa kota.

Awal 2002 saya pergi ke Jakarta dan menemui Haidar Bagir. Dari pertemuan itu, saya disarankan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa. HB tak hanya memberikan saran tapi memberikan rekomendasi juga memberikan bantuan finansial biaya hidup setiap bulan di Jakarta.

2003 saya mulai rajin belomba mengejar bus kota Koantas Bima setiap pagi menuju Kampung Utan Ciputat selama 1 tahun alias 2 semester. Setelah selesai aktif menghadiri perkuliahan 1 tahun saya sibuk dengan tugas mengelola penerbit Al-Huda di bawah ICC dan tidak lagi memikirkan kuliah.

Pada 2006 setelah menerima surat peringatan dari pihak perguruan tinggi, sembari tetap mengurusi penerbit, saya melakukan penelitian sebagai bagian dari penyusunan disertasii. Pada 2007 saya mengalami kecelakaan dan dengan memakai kursi roda saya mengikuti ujian komprehensif, test Tofel lalu ujian tertutup yang dipimpin Komarudin Hidayat. Ramadhan sore saya dinyatakan berhak menambahkan dua huruf D dan R di samping nama saya.

Ternyata buat orang yang terstigma negatif gelar formal tak begitu berguna bagi upaya mencari area dakwah yang lebih luas, apalagi untuk meniti karir. Untungnya, di era internet dakwah digital lebih mudah dilakukan dan lebih efektif ketimbang memberikan dakwah di forum, kelas dan podium.

Sekarang bila ada secuil ilmu dalam diri saya yang berguna bagi sebagian orang, maka HB dan beberapa yang berjasa bagi saya pastilah punya andil.

Meski sampai sekarang pun saya belum tahu arah “Western Touch” karena tak merasa mendapat sentuhanya. Mungkin suatu saat. Yang pasti, saya terus belajar dan tidak membatasi zona ekplorasi intelektual sejauh itu bermanfaat.

Semoga Bang HB dan orang-orang yang berjasa kepada saya diberi kesehatan lahir dan batin dan mendapatkan kebahagiaan hakiki.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed