SIMULACRA DAN DELUSI CITRA DIRI

Pemimpin adalah orang yang tak memperlakukan rakyat berdasarkan ketenaran, kekayaan, keningratan, kedekatan dan hal-hal yang tak berhubungan dengan fungsi dan tugasnya.

Tapi kadang mungkin pemimpin harus mengutamakan tujuan menghidupkan pasar ekonomi yang mati suri dengan menampilkan kehadirannya di arena budaya pop yang diharapkan mampu mengesankan keceriaan jauh dari kecemasan akibat pandemi meski popularitasnya turun beberapa digit.

Pertanyaannya, manakah yang mesti diutamakan; apakah usaha menghidupkan ekonomi dengan tampil ngepop demi memberikan kesan “everything is OK” agar pasar terpengaruh secara psikis oleh sentimen positif, ataukah idealitas keadilan dalam koridor norma sosial?

Paragraf-paragraf di atas ditulis sebagai ekspresi kekecewaan sekaligus cetusan kritik halus seorang pendukung yang berusaha mempertahankan kedaulatan individualnya kepada pribadi yang didukung.

Rupanya, beberapa teman terperanjat dan memberikan reaksi yang lumayan tajam terhadap aksi itu seolah menganggap kritik itu sebagai inkonsistensi dalam pemihakan ideologis dan politis. Padahal, pengkritik justru menganggap kritik itu sebagai konsekuensi logis dukungannya.

Respon tersebut mengingatkan saya kepada pandangan filosof kontemporer dan kritikus budaya postmodern, Jean Baudrillard yang berbicara tentang ambiguitas realitas manusia di era postmodern akibat dominasi simbol yang dilukiskan dengan istilah buatannya, simularca.

Simulacra adalah suatu dusta yang dibungkus dengan citra tekstual, visual dan lainnya yang sama sekali berbeda dengan diri faktualnya.

Ini kerap dilakukan seseorang yang dalam realitas hidupnya tak berpendidikan, atau tak relijius atau sama sekali tak peduli terhadap sesama, namun melalui akun pribadinya di sosial media, rajin mengcopas tulisan atau grafika berkonten sains dengan kutipan teori, agama yang bertabur ayat dan sabda, renungan kebijakan, moralitas dan hal-hal yang mencerminkan atensi terhadap problema sosial dan politik bangsa.

Dia sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra.

Pemuja dan pendukung adalah dua manusia yang berlainan. Pemuja menganggap pujaannya sebagai diri imajinal dan utopis-nya, sehingga menafikan apapun yang mereduksi “simulacra” diri yang disimulasikan pada citra pujaannya. Ini bukan soal yang dipuja, tapi soal “aku” sebagai pemuja. Sedangkan pendukung selalu menjaga jarak dengan individu atau kelompok yang didukungnya agar tidak kehilangan quiditas faktual dan agar kedaulatan personalnya lebur dalam personalitas pihak lain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed